Petani


MARI bicara sedikit tentang petani. Sebuah ‘profesi’ yang sudah sangat tua dan kerap banyak disalah-pahami. Pertanian memang muncul setelah era pemburu yang dalam kebudayaan tercatat sebagai titik awal terbitnya peradaban dalam sejarah.

Bagaimana pun sejarah mencatat sejak manusia mengenal pola bercocok tanam dengan membuka lahan pertanian, maka paradigma kebudayaan yang melekat di dalamnya otomatis juga memicu lahirnya sejarah.

Di sinilah peran petani kemudian menjadi ‘tulang punggung’ yang menghidupi rentetan kisah tentang jatuh bangunnya sebuah peradaban hingga lahirnya zaman yang kita sebut modern.

Dalam sejarah peradaban pertanian, kita mulai sedikit mahfun bahwa banyak ‘luka’ yang menjejak dalam ‘genangan’ kerja keras para petani.

Sebuah buku antropologi klasik karya Eric R. Wolf yang diberi judul “Peasants” dengan jitu membidik banyak kesalah-pahaman kita kita tentang ‘dunia’ ini. Bagi Eric, dunia peasant (petani pedesaan) merupakan dunia cukup kompleks serta memiliki struktur masyarakat yang berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat lain.

Dunia peasant (petani pedesaan) bukanlah sekadar bercocok tanam seperti ketika kita bercocok tanam dalam ruang-ruang tertutup (greenhouse), bukan pula farmer atau pengusaha pertanian (agricultural entrepreneur) seperti yang dikenal banyak di Amerika Serikat.

Farm Amerika pertama-tama merupakan sebuah perusahaan yang mengkombinasikan faktor-faktor produksi, yang dibeli dipasar untuk memperoleh laba dengan jalan menjual produksinya secara menguntungkan di pasar hasil bumi. Sebaliknya peasant (petani pedesaan) tidak melakukan usaha dalam arti ekonomi; ia mengelola sebuah rumah tangga, bukan sebuah perusahaan bisnis.

Dalam konteks terminologi ini, di mana kategori para petani kita di Indonesia? Dan bagaimana kita meletakkan sektor pertanian dan kesejahteraan petani dalam bingkai besar pertumbuhan ekonomi di negeri ini?

Terlepas dari adanya asumsi bila tulisan Eric R. Wolf ini sangat tendensius dan bercorak western-minded –sebagaimana kebanyakan dianut para antropolog Barat dalam melihat Timur- memang ada baiknya kita meletakkan persoalan pertanian dalam sebuah bangunan besar yang bernama: Culture. Ini sangat penting mengingat segala model pembangunan pertanian kita jangan sampai mengalami resistensi dari petani sendiri atau mubazir membuang-buang anggaran.

Bagaimana pun, sektor pertanian kita jangan melulu didekati dalam perspektif ekonomi semata, namun sangat penting ditilik dalam ruang-ruang kebudayaan. Para petani Indonesia, bisa dikatakan masih cukup kuat mengakar dalam sistem kebudayaan peasant-nya Eric. Dan untuk melakukan transformasi menjadi kultur farm, sangat diperlukan pendekatan sistemik terkait budaya serta paradigma pertanian.

Mengubah paradigma petani Indonesia dalam kultur peasant menjadi farm tidak segampang membalikkan telapak tangan. Di sana dibutuhkan iklim pemahaman yang sanggup membangun mental entrepreneurship para petani kita. Peran pemerintah menjadi sangat besar di sini. Keberpihakan pada petani bukan saja terletak pada berbagai jenis bantuan –walau itu sangatlah penting. Namun juga bagaimana meletakkan sendi-sendi kewirausahaan yang mandiri di sektor pertanian.

Mampukah kita bergerak ke sana? Saya yakin mampu dan memang mau-tak mau kita harus bergerak ke sana bila ingin menjadikan pertanian sebagai tumpuan kuat bagi perekonomian nasional. Presiden Jokowi dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman telah meletakkan berbagai kebijakan yang dinilai sudah on the track. 

Presiden Jokowi beberapa waktu lalu juga mengatakan perlunya menanamkan jiwa kewirausahaan pada petani kita dan Mentan Amran telah memberi tekanan kebijakan kuat bagi munculnya jiwa entrepreneur tersebut. Mari kita dukung hal tersebut. (*)
Diberdayakan oleh Blogger.