Membumikan Kembali Politik Egalitarian


DALAM kancah politik Sulawesi Selatan, sosoknya memang terbilang baru. Usianya pun masih sangat muda yakni 34 tahun. Namanya Andi Sudirman Sulaiman. Saat ini dia masuk dalam bursa kandidat pemimpin Sulsel  setelah berpaket dengan Nurdin Abdullah sebagai bakal calon wakil gubernur Sulsel di pilgub 2018 mendatang.

Satu hal yang mencolok dari Andi Sudirman Sulaiman selain muda dan berasal dari teknokrat profesional murni adalah sikap dan pemikirannya tentang ranah politik. Kehadirannya dalam percaturan politik memberi warna baru dan segar. Dia juga meletakkan garis demarkasi yang tegas antara politik ‘gaya lama’ yang disesaki oleh intrik, politik Machiavelli dengan politik baru yang bernuansa egalitarian.

Bagi Andi Sudirman, politik adalah ‘instrumen’ yang tujuannya untuk kemaslahatan rakyat. Menjadi pemimpin adalah menjadi pelayan rakyat dan jalan menjadi pemimpin adalah dengan mewakafkan diri untuk melayani masyarakat.

Politik egaliter ala Andi Sudirman Sulaiman ini jelas memberi warna baru sekaligus menjadi alternatif  bagi rakyat yang kebanyakan hanya dijadikan ‘kayu bakar’ setiap jelang pilkada dan kemudian menjadi ‘abu-arang’ setelah pilkada berakhir.

Beberapa waktu lalu, saya pernah membaca sebuah wawancara Andi Sudirman di media  dan merasa sebiduk dengan pemikirannya. Berikut ini petikan lengkapnya:

"Begini Cara Andi Sudirman Sulaiman Memaknai Hari Pahlawan"

"DISELA-SELA padatnya jadwal kunjungan ke berbagai daerah dalam rangkaian sosialisasi, bakal calon wakil gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, menyempatkan diri melakukan wawancara terkait makna hari pahlawan yang tepat jatuh pada tanggal 10 November hari ini.

Andi Sudirman Sulaiman mengatakan bahwa di hari pahlawan ini merupakan momen sangat penting untuk kembali merenung, mengingat bagaimana para pahlawan merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Saat ini, kata Andi Sudirman, masyarakat Indonesia punya medan perjuangan lain. Tetap merebut kemerdekaan dalam artian membebaskan diri dari penjajahan kemiskinan, kebodohan serta keterbelakangan. 

“Persatuan adalah kata kunci karena masyarakat kita sangat majemuk. Kita harus bersatu melawan praktek-praktek tidak sehat yang selama ini menggorogoti keuangan negara. Kita harus bersatu melawan kemiskinan dan kebodohan. Kita Harus lawan", tegasnya. Jumat,(10/11/2017)

Dia menambahkan, kalau masyarakat tidak miskin lagi dan pejabat-pejabat dipemerintahan sudah tidak lagi mempermainkan nasib rakyat kecil dengan berbagai korupsi, itu artinya kita sudah merdeka dalam arti sejati.

Lebih lanjut Andi mengatakan bahwa tujuan akhir dari kemerdekaan adalah apabila pembangunan bukan hanya menguntungkan segelintir kelompok tertentu saja, tapi pembangunan untuk semua rakyat. Pembangunan yang berkeadilan sosial dan berperikemanusiaan.

Ketika ditanya siapa pahlawan yang paling melekat dalam hatinya, Andi Sudirman sigap mengatakan; Jenderal Sudirman sesuai dengan namanya.

“Jenderal Sudirman itu kan memakai taktik gerilya dalam berjuang, makanya ketika saya bersosialisasi , saya juga memakai metode gerilya” tuturnya sambil tersenyum.

Memang, dalam melakukan sosialisasi ke berbagai daerah di Sulsel, cawagub dari Prof Andalan ini  menyusuri desa-desa tanpa ada pengawalan. Adapun yang turut dalam rombongan hanya 2-3 orang dari keluarga.

“Saya rasa tidak ada cagub-cawagub yang mampu door to door dari desa ke desa untuk terjun langsung. Ini memang pekerjaan yang membutuhkan energi besar dan kemauan untuk mendengarkan langsung harapan rakyat desa”, ujarnya.

Menurut Andi Sudirman, cara bergerilya dari desa ke desa ini ditujukan untuk mengubah pola fikir masyarakat yang kadang diiming-imingi dengan praktek-praktek politik yang curang, politik yang korupsi serta janji-janji yang membumbung tinggi tapi nol dalam realisasi nantinya.

Dengan model bergerilya ke desa-desa, Andi Sudirman ingin mengajak massyarakat untuk melihat bahwa pejabat adalah pelayan masyarakat. Bukan yang dilayani apalagi ingin dipuja-puja.

“Saya ingin ke depan pejabat itu bukan seperti ’raja’. Pejabat itu bisa juga memakai sandal jepit,  karena bagaimana mereka bisa empati dengan masyarakat miskin jika mereka tidak berbaur bersama warganya”, kata Andi Sudirman.

Menurutnya, semua pejabat memang punya keinginan  untuk mengubah sesuatu menjadi lebih baik. Namun cara berpikir serta pendekatan yang dipakai sangat materialistik dan transaksional.

“Bisa dikalkulasi bila untuk memenangkan pilkada kita butuh 2 juta suara. Lantas rakyat dibeli Rp.50 ribu perorang. Bila dikali 2 juta kali 50ribu misalnya, berarti mencapai 100 miliar. Sementara gaji gubernur dan wakil gubernur taruhlah 3-5 miliar per lima tahun/per periode misalnya, terus 97,5 miliar itu dari mana, otomatis kita akan mencuri uang yang bukan hak kita. Makanya masyarakat harus disadarkan untuk tidak memaksa para kandidat untuk melakukan itu. Karena masyarakat yang menjadikan pemimpinnya bermntal korupsi”, terang Andi.

Dengan demikian, katanya, untuk lawan  kondidi seperti itu, jejaring relawanlah yang perlu diperkuat. Karena relawan-relawan yang pasti memiliki militansi yang kuat, bekerja tanpa pamrih dan bukan karena iming-iming politik uang. Relawan-relawan ini  bekerja karena hanya ingin melihat Sulsel Jaya........"

Membaca wawancara ini seperti membawa saya pada bayangan awal-awal kemerdekaan republik ini yang memang didominasi oleh kaum muda, seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, Jenderal Sudirman dll.

Semangat egalitarian, kerja ikhlas dan tanpa syahwat untuk keuntungan pribadi atau kelompok, para founding fathers bangsa ini bekerja dan berjuang. Semangat inilah yang saya lihat pada sosok Andi Sudirman Sulaiman. (*)
Diberdayakan oleh Blogger.