Merayakan Pilkada Sebagai Ajang Kegembiraan


SETIAP jelang pemilihan kepala deerah (pilkada), entah itu pemilihan gubernur (pilgub) atau pemilihan wali kota/bupati, kecerdasan serta kewarasan emosional kita sebagai warga negara kembali diuji.

Betapa tidak, di masa-masa seperti ini –biasa disebut tahun politik-  mendadak ‘temperatur’ stabilitas batin dan emosi kita diaduk ‘tak tentu arah’ sedemikian rupa. Berbagai semburan caci maki, hujatan, fitnah dan berita bohong (hoax) menyesaki ‘udara’. Saya tak tahu sejak kapan sebuah pesta demokrasi (pilkada) di negeri ini bermetamorfosis menjadi ajang ‘deposit’ dosa. Namun disetiap jelang pilkada, manusia-manusia Indonesia, seperti terpapar ‘virus’ kebencian yang sanggup melumat segala sisi kemanusiaan kita.

Sejak robohnya ‘rezim orde baru’ tahun 1998 yang ditandai dengan berayunnya bandul pendulum ke arah liberalisme demokrasi, suara kebebasan kita meledak dalam warna yang paling ekstrim. Mendadak udara politik kita menjadi  rusuh, ribut dan sesak oleh cacian, hujatan dan berita-berita bohong (hoax).

Barangkali, kita tidak pada tempatnya menimpakan kesalahan pada orde reformasi. Lagi pula, lahirnya reformasi merupakan catatan sejarah positif bagi arah pembangunan demokrasi kita setelah kurang lebih 32 tahun bangsa ini dikangkangi oleh politik otoritarian yang menjadikan bangsa ini ‘kerdil’ dalam berpolitik.

Namun yang jadi persoalan adalah sejak reformasi, sikap kebebasan politik ini tidak dibarengi dengan kecerdasan politik . Maka tidak mengherankan bila yang mendominasi ruang politik publik kita (terutama di media sosial) bukannya politik pencerahan namun semburan caci maki, hujatan dan informasi menyesatkan (hoax).

Sejatinya, pilkada atau biasa karib disebut pesta demokrasi merupakan ajang perayaan kegembiraan masyarakat. Disebut demikian karena pada masa seperti inilah kedaulatan rakyat benar-benar memperoleh wujudnya lewat pemilihan langsung. Pada masa inilah, rakyat menggenggam kekuasaannya secara penuh dan menentukan siapa yang akan mengemban amanah sebagai “pelayan” mereka selama lima tahun mendatang.

Dalam konteks seperti itu, rakyat menjadi pemegang kedaulatan penuh dan seharusnya kedaulatan itu dipergunakan dengan kegembiraan. Namun sayangnya, kondisi seperti ini masih menjadi ‘wacana’. Realitasnya, setiap jelang pilkada, rakyat seperti terjangkit ‘virus’ kebencian. Alih-alih secara cerdas memilah dan memilih calon ‘pelayan’ mereka yang amanah, kebanyakan dari kita justru terjebak dalam politik ‘menistakan’ kandidat calon pemimpin yang lain dan sibuk memaksa orang lain untuk ikut membenci.

Jujur, saya tidak tahu bagaimana memperbaiki kondisi yang terlanjur karut-marut dalam dunia politik jelang pilkada seperti ini. Namun yang pasti, masih ada sebagian dari kita yang ingin menegakkan demokrasi pilkada sebagai ajang kegembiraan memilih calon ‘pelayan’ daerah kita yang terbaik. Dan ‘virus’ positif seperti ini harus terus didengungkan. (*)
Diberdayakan oleh Blogger.