Kesatria di Medan Palagan



MEREKA berperang di medan palagan. Saling unjuk strategi dan ‘bermimpi’ saling menaklukkan. Namun mereka juga saling menghormati dan saling menyanjung. Mereka adalah para kesatria.

Sejarah banyak mencatat peristiwa seperti ini. Sebuah kisah tentang moralitas-etik di tengah kabut tebal peperangan. Di tengah bayangan kematian berjalan bersisian dengan kemanusian, sejarah ternyata mematri nilai yang demikian menjulang.

Salah satunya adalah kisah Saladin di masa Perang Salib di abad ke 12 lalu. Sebuah kisah tentang para sosok pemberani dalam pertempuran, yang sebenarnya tak ingin menumpahkan darah.

Sebelum menaklukkan dan merebut kembali Jerusalem di suatu musim panas tahun 1187. Saladin memberi ruang bagi pihak Kristen untuk menyiapkan diri agar mereka bisa melakukan perlawanan yang maksimal dan berhadapan dengan pasukan Saladin dengan terhormat.

Yang menarik dikisah ini bukan tentang bagaimana pertempuran itu berlangsung, namun setelah pertempuran itu selesai dan pasukan Saladin berhasil merebut Jerusalem kembali.

Setelah pasukan Kristen kalah, yang diperbuat Saladin bukanlah menjadikan penduduk Nasrani di sana sebagai budak. Panglima itu malah membebaskan mereka tanpa dendam. Walaupun sebelumnya, ketika pasukan Salib dari eropa merebut Jerusalem di tahun1099, sebanyak 70 ribu orang muslim dibantai dan sisa orang Yahudi digirig untuk dibakar.

Ketika musuh besarnya, Raja Richard Berhati Singa, yang datang untuk menaklukkannya terserang sakit dalam pertempuran, Saladin mengiriminya buah pir segar dan seorang dokter. Eropa kemudian takjub bagaimana agama Islam melahirkan orang sebaik dia dan perdamaian pun ditandatangani di tahun 1192.

Kisah ini bukanlah kisah romantik dari film kolosal ala Hollywood. Ini adalah sebuah sejarah tentang kemanusian yang memang kerap ‘berbinar’ di masa-masa kegelapan sebuah peperangan. Dan kita saat ini juga kerap merindukan suasana seperti itu.

Inilah kisah para kesatria di sebuah masa yang kerap membikin kita tak lagi mampu memilah dan memilih antara loyalitas, patriotisme, kemanusian, moral, kebencian, dendam dan kebenaran.

Lalu, segala pesan kemanusian dalam kisah ini seperti sebuah ‘dongeng’ belaka. Di masa ini, jangankan di medan palagan, di ranah politik pun kita seperti  telah kehilangan rujukan moralitas-etik. Kebencian, hoax, saling fitnah, Machiavellinisme membaluri udara kita. Dan kita merasa kebenaran itu adalah hak prerogative yang hanya milik sendiri. ***
Diberdayakan oleh Blogger.