Mari Bicara Sedikit Tentang Pilkada


PEMILIHAN KEPALA DAERAH (Pilkada) serentak di negeri ini tersisa beberapa bulan lagi. Suasana politik di langit Indonesia mulai terasa ‘gerah’. Kompetisi antar bakal calon pemimpin ini makin menukik tajam, bahkan sampai ke ruang-ruang paling pribadi.

Media massa (koran, elektronik, online) menghamburkan berita. Media sosial (Medsos) menggiring opini. Entah benar, entah hoax, semuanya baur dalam realitas publik. Memenuhi udara politik dan memuntahkan 1001 macam, baik itu janji, harapan, bualan dan mungkin kebohongan.

Memang, jelang sebuah perhelatan politik semacam ini, kita selalu menemukan hal yang sama; para bakal calon pemimpin kita mendadak demikian “arief, santun, merakyat, murah senyum serta penuh dengan jiwa pengasih.

Fenomena seperti ini cukuplah bagi kita –sebagian besar rakyat- untuk kembali merasa punya ‘kekuatan’ dan ‘kekuasaan’ untuk merasa diperdulikan. Walau itu hanya dalam kurun waktu terbatas: jelang pemilihan yang kurang lebih berkisar 6 bulanan.

Namun dalam kurun masa itu, masa depan kita memang dipertaruhkan. Kesalahan memilih pemimpin bakal menjadi ‘mimpi buruk’ yang akan kita rasakan dalam waktu cukup lama. Dampaknya pun bakal terus dirasakan anak-cucu kita kelak.

Barangkali telah banyak tulisan yang telah kita ‘kunyah’ tentang tips memilih pemimpin yang baik. Barangkali artikel-artikel tentang bagaimana menakar, mengukur, menilai dan memandu cara kita menentukan pilihan pemimpin telah menyesaki ruang ingatan kita. Namun anehnya, selalu saja kita ‘terjebak’ dalam sebuah perangkap kekeliruan. Selalu saja kita mengulang lagu lama tentang keluahan ‘nasib rakyat’ yang di PHP (pemberi harapan palsu). Apa boleh buat.

Mengapa fenomena semacam ini terjadi? Terus terang saya kurang tahu. Namun dalam hal ‘politik’, sebagian besar dari kita memang kerap punya ‘memori pendek’. Kadang kita demikian fasih mengatakan pilihlah pemimpin yang punya ‘track record’ cemerlang, namun pengetahuan tersebut  hanya menjadi sekedar pembenaran untuk membulatkan dukungan pada sosok yang memang kita jagokan jauh hari sebelumnya.

Kita pun mencari-cari segudang pembenaran dan kalau perlu “memecahkan cermin bila itu menggambarkan wajah buruk jagoan kita”.  Maka yang terjadi adalah ‘kerumunan’ suara yang saling memperagakan “masturbasi politik”. Bersorak kala kandidat lain menemui kemalangan dan mencari ‘kambing hitam’ bila jagoan kita kedapatan melakukan kekeliruan.

Fenomena politik jelang Pilkada memang hanya ‘panas-dingin’ di wilayah ini. Kesadaran politik kita baru sampai pada tataran ‘menghujat’, mencaci, memuji dan berbohong. Di jelang pilkada, kita menjelma sebagai sosok aneh yang hanya bisa “membenci setengah mati atau mencintai sepenuh hati”. Apa boleh buat.


Lalu bagaimana bila sebagian rakyat kita telah punya kesadaran politik di atas rata-rata? Yang telah sanggup memilah dan memilih mana calon pemimpin yang ‘baik’, mana yang ‘seolah-olah baik’? Mari berdoa semoga yang seperti ini bisa bersuara dan terus menebarkan kesadaran politiknya.***
Diberdayakan oleh Blogger.