Merayakan Kemenangan Petani


ANTARA bulan Januari hingga Maret, para petani kita bersuka-cita. Dalam kurun masa itu, hasil keringat yang ditanam petani kita di sawah siap dipanen. Desa-desa di negeri ini menyemburatkan senyuman. Pesta panen dimulai dan kita –sebagian besar rakyat Indonesia- kadang luput menyimaknya.

Barangkali, tak ada yang lebih mengharukan ketika menyaksikan bagaimana para ‘pahlawan’ yang senantiasa ‘diam dalam kerja’ ini menuai bulir-bulir keringat yang menjelma padi tersebut. Memang, tak ada yang istimewa di sana. Tak ada semarak ‘kembang-api’ dalam gemuruh perayaan tersebut. Namun dalam ‘kerja dan keringat’ ini, ada harapan yang membuhul. Ada sesuatu yang harus kita jaga dan rawat; sebuah semangat dari petani kita yang telah ‘memberi makan sekian ratus juta mulut rakyat Indonesia’.

Namun ada sebuah lembaga yang mendadak sinis. Ada sebuah institusi yang mendadak demikian ‘nyinyir’ mempermasalahkan kegembiraan para petani kita. Ini memilukan kita. Lembaga terhormat ini mengatakan ‘perayaan panen’ hanya sekedar pembentukan opini. Perayaan kegembiraan petani adalah sebuah ‘kebohongan’. Dan kita yang mendengar statement tersebut merasakan semacam ‘rasa perih yang aneh’.

Terus terang, saya tidak tahu apa motif di belakang pernyataan seperti itu. Namun yang pasti, asupan kebudayaan terasa kering dalam pernyataan ini. Mengapa petani tak boleh bergembira untuk sekedar menikmati hasil bumi yang mereka tanam? Mengapa sedikit kegembiraan yang hadir harus dipermasalahkan?

Kebudayaan petani dengan segala ruang-ruang pengucapannya adalah bagian dari ‘kerja’ itu sendiri. Nilai yang bertaut di dalamnya bukan hanya berhenti pada ‘pesta panen’ namun menyimpan benih yang kita sebut; harapan, semangat, passion yang beberapa dekade sebelumnya nyaris punah di desa-desa.

Semangat itulah yang kembali dihadirkan. Passion itulah yang kembali membuhul dalam senyum gairah para petani kita. Gairah yang tak bisa dibeli dan direkayasa oleh siapa pun. Karena dia hadir bersama sebuah harapan untuk kehidupan yang lebih sejahtera dan berwarna.

Lalu Mengapa gairah ini dicurigai oleh orang-orang yang tak paham ruang kebudayaan petani kita? Memang terasa ironis. ***
Diberdayakan oleh Blogger.