Andi Sudirman Sulaiman: Meletakkan Kembali Marwah Politik Kaum Idealis


SEJARAH politik Indonesia adalah sejarah tentang pemuda. Nama-nama besar semacam Soekarno, Moh. Hatta, Syahrir, Jenderal Soedirman, Tan Malaka, WR Supratman dan lain-lain menjadi icon kepahlawanan kaum muda dalam menginjeksi energi politik yang positif dalam tubuh kebangsaan kita.

Kaum muda dan gerak perubahan memang senantiasa melekat dalam setiap catatan sejarah. Politik idealisme yang mereka usung, tidak hanya berhenti pada  simbol-simbol seremonial belaka, namun langsung ‘menusuk’ jauh dalam relung pergerakan Indonesia menuju kemendekaan.

Cerita-cerita tentang kesederhanaan, kesetiakawanan, pengorbanan dan jangkauan visi yang demikian mempesona dari pemimpin kita tersebut menjadi cetakan emas perjalanan politik bangsa kita.

Tak ada yang memungkiri, rahasia terbesar dari mereka dalam setiap jejak perjuangan politiknya adalah ‘passion’ kecintaan dan empati pada rakyat. Energi ini menggelegak karena mereka ada di tengah-tengah rakyat, melekat dalam setiap tangis dan tetesan luka maupun duka rakyat. Di sana, kalimat semacam ‘pemimpin yang berjarak dengan rakyat’ adalah kalimat yang aneh.

Tidak mengherankan bila rakyat demikian melekatkan hatinya pada mereka. Dan segala langkah dan napas harapan rakyat hadir dalam suara-suara mereka. Pemimpin-Rakyat, melumer jadi satu. Di sana, politik terlihat demikian menggetarkan.

Namun, kadang waktu tidak lagi berpihak pada ‘semangat’ semacam itu. Sejarah politik Indonesia kemudian tumbuh menjadi kisah-kisah yang memilukan. Politik yang dulu lahir bersama idealisme sederhana kaum muda, bermetamorfosis dalam jelmaan yang paling ekstrim. 

Politik kemudian menjadi ‘sang predator’ yang hanya bisa membahasakan diri dalam obsesi ‘kekuasaan’. Politik tumbuh dalam ‘waham’ kekuasaan. Karakter yang diciptakannnya kemudian berwujud intrik, syahwat dan menghalalkan segala cara. Lalu segalanya menjadi dianggap wajar dan lumrah. Proses pembusukan politik semacam ini adalah sebuah realitas yang hadiri di tengah-tengah kita saat ini. 

Namun sejarah juga bukanlah benda mati. Semangat idealisme politik bagaimana pun pernah hadir dan menjadi energi yang tidak akan mati begitu saja. Dan kaum muda yang memang senantiasa menjadi icon penggerak perubahan zaman juga terus dilahirkan. 

Di sana, dalam bingkai politik yang kerap menafikkan ‘hati nurani’ rakyat, kaum muda selalu hadir dan menjadi simbol perlawanan. Mereka hadir sebagai antitesa perilaku politik yang hanya ‘menari’ untuk kekuasaan dan privelege kepentingan sendiri atau kelompok. Kaum muda yang menerjemahkan politik sebagai kata ‘kerja’ dan bukan sekedar kata ‘benda’.

Dalam konteks inilah, saya melihat kehadiran Andi Sudirman Sulaiman, anak muda (34 tahun) yang saat ini tercatat sebagai calon Wakil Gubernur Sulsel di Pilgub 2018. Kehadiran Andi Sudirman memang terbilang mengejutkan dalam peta percaturan politik Sulsel. Dia adalah profesional sejati dan berkiprah dalam dimensi kerja multinasional.

Tak ada yang memprediksi kemunculan Andi Sudirman Sulaiman di arena kontestasi Pilgub Sulsel ini sebelumnya. Sama seperti banyak yang tidak memprediksi, Soekarno, Hatta, Syahrir, Jenderal Soedirman mampu mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu kemerdekaan dulu. Kehadiran Andi Sudirman menjadi ‘gempa’ politik Sulsel karena dia hadir dalam semangat dan energi lain. Sebuah ‘passion’ politik dengan marwah idealisme yang telah lama raib dalam kultur politik kita.

“Kekuatan politik itu untuk melayani dan bukan dilayani. Politik itu adalah kerja kemaslahatan dan bukan memburu kemewahan. Politik itu adalah mewakafkan diri untuk kemuliaan dan kesejahteraan rakyat”. Inilah kalimat yang pernah diucapkan Andi Sudirman dan saya yang mendengarnya seperti mendengar suara ‘hati nurani’ rakyat. Suara yang pernah demikian menggetarkan rakyat di masa-masa perjuangan kemerdekaan dulu. Suara kaum idealis muda yang meletakkan marwah politik sebagai garda depan medan pengabdian. (*)
Diberdayakan oleh Blogger.