Fenomena Black Campaign serta Pilkada Rasa ‘Cinta dan Benci’


SETIAP jelang momen Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), kebanyakan dari kita seperti mengulang kembali ‘kisah cinta monyet’ sewaktu amukan rasa seperti diaduk oleh ‘pusaran’ emosional level fantastik.  Tataran kemiripan tersebut bisa dianalogikan mengingat demikian luar biasanya kadar emosional kita tersedot di dalamnya.

Sama seperti ketika kita ‘jatuh cinta’ di masa-masa pubertas awal atau terlempar dalam jurang ‘patah hati’ yang kesumat di masa remaja, momen Pilkada juga menarik seluruh energi irasional kita dalam dominasi yang demikian memuncak. Hegemoni rasa emosi yang meluap-luap tersebut kerap menjadikan kita kehilangan sisi rasional sebagai manusia dan warga negara.


Amukan emosial ini bahkan mampu berlangsung dalam intensitas akut sehingga kita hanya bisa melihat melalui ‘kaca mata kuda’, hitam putih, kawan lawan, cinta dan benci.


Fenomena rasa semacam ini menjadi realitas politik kita setiap jelang Pilkada. Tak ada konfigurasi warna emosi lain selain hitam atau putih. Sikap rasional menjadi barang mewah di sana. Yang berseliweran di jagat politik hanyalah antara lintasan spectrum; cinta sepenuh hati atau benci setengah mati.


Dalam kondisi seperti itu, kita rela melakukan apa saja dan siap menegasi siapa saja. Moralitas dan etika tiba-tiba menjadi kata yang asing dalam keseharian kita. Di sinilah embrio black campaign (kampanye hitam) mulai tumbuh dan menjadi menu sehari-hari dalam kunyahan politik pilkada.


Dalam konteks kadar emosional ‘cinta monyet’ semacam ini, seluruh ‘urat-urat’ kengototan kita meradang. Kita hanya siap menang dan terbang dalam 1001 puji-pujian tapi demikian takut akan kalah dan patah hati. Maka menghalalkan segala cara dengan ‘menjatuhan’ rival kita memperoleh pembenarannya.


Di sana, kita tersesat dalam belantara nir kompas. Psikologi kita menjadi ‘kaku’ dalam cengkeraman bahwa kita adalah baik dan sang rival adalah bajingan. Maka caci-maki, hasutan, fitnah, bualan, kebohongan adalah lumrah selama itu membenarkan apa yang kita bela.


Ruang-ruang demokrasi yang mensyaratkan sikap rasionalitas dan kecerdasan emosional warga negara menjadi pajangan indah dalam percakapan-percakapan sebelum masa pilkada dan setelah masa pilkada.


Dengan demikian demokrasi pilkada kita memang baru sebatas demokrasi ‘cinta monyet’. Luapan emosional yang menjadi pemandu kita. Dan segala haru-biru yang menyesaki udara politik jelang pilkada, kita kembali luput untuk menjadi warga negara dan selalu terperosok kembali dalam gemuruh kerumunan tak berindentitas . Kecuali yang tidak. (*)
Diberdayakan oleh Blogger.