Melawan Mentalitas “Inlander”


KH. ABDURRAHMAN WAHID (Gus Dur) pernah mengatakan salah satu penyakit akut bangsa ini  adalah mentalitas inlander. Istilah inlander ini  akrab dilontarkan oleh kolonial Belanda  dulu untuk menyebut pribumi Indonesia. Sebutan inlander dipropagandakan oleh kolonialis ini menyimpan makna yang memang sangat ‘menyakitkan’ seperti sifat inferior, pemalas serta irasional.

Proses menanamkan mentalitas ini ke dalam pribadi manusia-manusia Indonesia memang bisa dikatakan berhasil dan cukup kuat mengakar. Mentalitas inlander kemudian menjadi ‘guyup’ dan sepanjang masa-masa suram penjajahan tersebut, bangsa kita menjadi sebuah ‘eksperimen’ kolosal dalam ‘injeksi’ propaganda kolonial dari bangsa besar  - dengan kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Samudra Pasai dan lain-lain – menuju ke bangsa yang ‘kerdil’, inferior dan tak punya rasa percaya diri.

Tidak berhenti pada ‘bercokolnya’ sifat inferior semata, propaganda mentalitas inlander oleh kolonialisme ini bahkan juga berhasil merangsek masuk jauh ke ruang-ruang pribadi bangsa yang paling tersembunyi. Virusnya bahkan telah mengoyak sendi paling penting dalam eksistensi sebuah bangsa yakni integritas.

Salah satu buku lawas dari seorang guru besar Universitas Nasional Singapura, S.H Alatas dengan judul “Mitos Pribumi Malas” (LP3S 1988) menjadi studi komprehensif terkait bagaimana sebuah ideologi imprealisme-kolonial membangun basis legitimasinya dengan sebuah ‘injeksi’ citra tentang kualitas mental inferior dari pribumi masyarakat terjajah di Asia Tenggara. Dan segala bentuk propaganda tersebut kemudian jauh tertanam dalam kepribadian bangsa kita.

Tidak mengherankan bila dalam perkembangannya kemudian, kita bermetamorfosis menjadi sebuah bangsa yang disesaki dengan pribadi yang cenderung tidak percaya diri, gampang terkesima dengan bangsa lain serta demikian gampang dibuai menjadi jiwa yang mampu menggadaikan integritasnya untuk hanya sekadar meraih keuntungan pribadi atau kelompok.

Lebih jauh, kecenderungan mentalitas ini juga menjadikan kita manusia yang memiliki mentalitas ‘koruptif, mengambil keuntungan di atas penderitaan sesama anak bangsa serta berjiwa culas.

Mungkin catatan di atas terasa cukup bombastis. Namun jejak kecenderungan pribadi semacam ini bisa dengan gampang kita temukan dalam keseharian kita, baik itu terkait dengan pola hubungan kita dengan sesama, apalagi dalam ruang-ruang pengambilan keputusan di tataran negara atau pemerintahan. Salah satunya yang saat ini paling anyar dari sisa-sisa mentalitas inlander tersebut adalah mentalitas “impor”.

Memang dalam tataran pola relasi perdagangan dunia yang modern, kebijakan impor adalah hal yang wajar dan dalam takaran tertentu perlu. Namun kebijakan impor menjadi ‘aneh’ disaat kita menyakini bahwa hal tersebut tidaklah diperlukan karena alat/barang/jasa yang kita ingin impor telah kita miliki dengan persediaan yang memadai. Namun ironisnya kebijakan impor tersebut tetap saja dipaksakan dengan berbagai dalih yang justru semakin membuka ‘bau sengak’ keanehan yang ada.

Dalam ruang mental semacam ini, setidaknya kita bisa melacak beberapa ‘bau sengak’ yang mengiringi hal tersebut. Pertama, kita memang tidak memiliki rasa percaya diri yang kuat atau mentalitas inferior warisan penjajah ini adalah cermin pribadi kita. Kedua, dalam ruang mental itu juga, kita dengan sengaja mengelembungkan ‘semangat’ mencari keuntungan pribadi/kelompok dengan memperoleh ‘fee atau komisi’ dari model kebijakan makelar yang kita terapkan.

Dalam kondisi semacam ini, harga diri bangsa, penderitaan nasib rakyat yang terkena dampak kerugian dari impor tersebut tidaklah bakal masuk dalam hitungan untuk dipertimbangkan. Dan nasib pilu dan jeritan rakyat adalah bahasa abstrak yang tidak nyata karena pada umumnya, mereka yang di atas sana telah menafikkan jiwa yang paling luhur dari kemanusiaan kita; jiwa empati. ***
Diberdayakan oleh Blogger.