Pilkada dalam Psikologi Kerumunan


ADA banyak buku yang menceritakan bagaimana kecenderungan perilaku sebuah kerumunan (massa) dalam setiap peristiwa sejarah yang penting dan membawa dampak cukup ‘mengejutkan’. Sebutlah salah satunya adalah buku karya pemikir besar Prancis, Gustave Le Bon. 

Dalam karya klasiknya, “The Crowd”, Gustave Le Bon mengindentifikasi 'DNA' dari psikologi massa dengan sangat cemerlang. Sebuah kecenderungan mental yang hanya bisa ditemui ketika kerumunan (massa) tampil dalam sebuah pertistiwa sejarah. 

Menurut Le Bon, Sifat sebuah kerumunan (massa) senantiasa menegasikan rasionalitas. Tak ada “individu’ yang menjadi sumber cahaya sifat rasional karena segalanya dihegemoni oleh afektif dan daya pesona ‘mistik’. Sebuah kerumunan senantiasa bertendensi ‘emosional’ yang bisa menular secara cepat. Sifat penularan inilah yang paling menonjol dalam sebuah kerumunan. 

Tidak mengherankan bila salah satu embrio kekerasan, fanatisme dan kerusuhan selalu diawali dengan sebuah aksi kerumunan. Dalam kerumunan tersebut, akal sehat benar-benar dimatikan. Fanatisme memuncak dan dengan sedikit sentuhan yang membakar emosi, maka orang-orang yang berada dalam kerumunan tersebut akan  bertindak di luar nalar yang bisa kita bayangkan.

Barangkali, inilah salah satu pertimbangan mengapa kampanye dengan model pengerahan massa tidak lagi menjadi prioritas dalam setiap kampanye pilkada. Pertemuan dengan masyarakat lebih banyak dilakukan dalam bentuk kampanye dialogis dan pertemuan terbatas.

Namun, Bagaimana pun , sebuah pilkada selalu saja membutuhkan massa. Membutuhkan semacam kehadiran sebuah kerumunan untuk melegitimasi eksistensi seorang kandidat agar ‘percaya diri’ bila di hari pemungutan suara kelak, orang-orang yang berkerumun itu menjadi basis pemilihnya. Atau setidaknya, dengan sebuah kerumunan, sang kandidat berharap ‘daya tular’ yang menjadi karakter massa dapat menyebar dengan cepat kepada pemilih yang belum menentukan pilihannnya.

Pertanyaan yang kerap muncul, mengapa sebuah kerumunan (massa) selalu saja menjadi alat ukur bagi kebanyakan dari kita dalam menakar apakah seorang kandidat punya potensi memenangi sebuah pemilihan? Padahal kebanyakan dari kita pun tahu bila pada umumnya, kerumunan yang terjadi dalam sebuah pilkada tak lebih sekadar sebuah pseudo-massa. Disebut demikian karena sejarah politik kita dalam pengerahan massa bukan berangkat dari sesuatu yang murni namun lebih pada sebuah hasil rekayasa politik semata. Entah itu karena iming-iming uang atau karena adanya instruksi dari sebuah ‘kekuasaan’ yang mampu menentukan mengepul tidaknya ‘priuk nasi’ seseorang.

Namun terlepas dari itu semua, sebuah kerumunan tidak ‘mengenal’ apakah dirinya terbentuk oleh rekayasa atau imung-iming uang, Yang dikenal oleh sebuah kerumunan hanyalah ‘karakter emosional’ serta nir-nalar . Dan di sana potensi daya ledak yang dimilikinya sungguh membuat kita ciut.

Sebuah kerumunan, bagaimanapun masih menyimpan kekentalan sifat sebuah masyarakat yang punya kecenderungan ‘tiranik’. Apabila muncul seorang pemimpin yang memiliki kemampuan ‘mengendalikan’ psikologi emosional massa, maka bisa diperkirakan, bangsa, atau wilayah tersebut akan melahirkan pemimpin yang otoritarian.

Untuk itu, demokrasi yang selalu merujuk pada lahirnya karakter warga-negara —dengan prasyarat sikap rasionalitas— menjadi penting dalam sebuah pilkada yang bisa dikatakan sehat. Jika tidak maka yang terjadi bahwa pilkada hanya melahirkan pemimpin dari orang-orang yang ‘terhipnotis’ secara emosional dan setelah tersadar akan menyesali diri. ***
Diberdayakan oleh Blogger.