Pilkada ‘Ujung Telunjuk’ Seorang Jubir


PEMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) sejatinya adalah ‘ruang demokrasi’ dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dikontestasi seperti ini, rakyat adalah ‘hakim tertinggi’ dalam menentukan ke arah mana ‘jari telunjuknya’ dalam menentukan siapa yang bakal memimpin mereka selama 5 tahun ke depan. Dengan kata lain, Pilkada adalah ‘politik ujung telunjuk’ rakyat dalam menetapkan siapa yang bakal diamanahkan berada di garis depan kesejahteraan yang diinginkan rakyat.

Namun ironisnya, realitas demokrasi di sekitar Pilkada kita —meminjam kata budayawan Moh. Sobary— masih berada pada tataran ‘demokrasi pubertas’. “Demokrasi puberitas’, menurut Sobary, adalah demokrasi ‘anak tanggung’ yang seluruh kecenderungan sikapnya ditandai dengan ‘narsisme’ yang meledak-ledak, emosi yang membumbung serta karakter menuding ke sana- ke mari.

Politik demokrasi Pilkada kita memang masih memakai ‘ujung telunjuk’, namun ujung telunjuknya dipergunakan adalah untuk menuding, menghujat dan menfitnah kontestan lain. Dengan Pilkada model seperti ini, bisa dipastikan yang bergaung di ruang publik hanyalah seputar ‘tuding menuding, bantah membantah, hujat menghujat dan fitnah memfitnah’.

Di sini sikap rasionalitas memang menjadi sebuah ‘omong-kosong’ belaka. Karena segalanya diawali dengan niat kekuasaan dan bukan niat melayani. Lalu politik menghalalkan segala cara ala ‘Macciavelli’ pun dipergunakan sedemikian rupa. Pilkada pun bermetamorfosis menjadi ‘arena’ deposit dosa. Di sana energi negatif menyesaki udara kita dan bau sengat intrik keculasan membayangi langkah kita. Demokrasi ‘ujung telunjuk’ ini selalu saja berulang setiap kita hendak melaksanakan ajang Pilkada.

Beberapa waktu yang lalu, juru bicara NH-Azis, Risman Pasigai menyindir Andi Sudirman Sulaiman dengan mengatakan calon Wakil Gubernur Sulsel ini merupakan ‘cawagub rental’. Entahlah, apa yang ada dibenak seorang jubir ketika mengatakan hal seperti ini. Namun yang pasti, pernyataan ini sangat ‘narsistik’ dan sudah diluar koridor akal sehat sebuah ajang demokrasi. 

Peryataan yang lontarkan Jubir NH-Aziz ini sangat tidak arif dan etis. Semestinya seorang jubir mampu meletakkan nilai-nilai kearifan budaya Bugis-Makassar yang menjunjung tinggi sifat sipakatau, sipakalebbi.

Inilah salah satu contoh apa yang dimaksud budayawan Muh. Sobary sebagai 'kegenitan' seorang politikus ‘puber’. Alih-alih mengundang simpatik publik, pernyataan Risman malah membuka tabir politik ‘Macciavelli’ yang diperagakan kandidatnya. 

Politik ‘ujung telunjuk’ yang bisanya menuding dan menyindir kandidat lain adalah politik purba yang memang banyak dipertontonkan oleh politisi ‘kelas puber’. Aura negatif yang melingkupi jejak kiprahnya membikin mereka memandang politik itu sebagai tempat mencari kelemahan dan bukan memberi pencerahan politik pada rakyat. 

Syahwat kekuasaan yang mengalir dari DNA politik mereka memang sebatas hal tersebut. Apa boleh buat. Dan kita, rakyat kecil ini, sepertinya dianggap tak mengerti apa-apa. ***

Diberdayakan oleh Blogger.