Transformasi Politik Andi Sudirman Sulaiman


BEBERAPA waktu lalu, pada sebuah pertemuan dengan sekelompok masyarakat tani di Kabupaten Bone, Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman menyampaikan , sejatinya, pemilihan kepala daerah (Pilkada) adalah ajang masyarakat memilih pemimpin yang terbaik. “Mari kita hindari perpecahan. Pilihlah pemimpin yang terbaik”, kata Andi Sudirman.

“Mari kita hindari perpecahan dan pilihlah pemimpin yang terbaik”. Kalimat ini terasa sangat renyah dan menyimpan kekuatan makna yang juga sangat dalam. Kenapa? Karena kalimat ini disampaikan saat dirinya sedang melakukan kampanye dialogis untuk pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel. 

Dalam konteks sebuah kampanye untuk Pilkada, memang kalimat yang meluncur dari Andi Sudirman terasa unik dan berbeda. Bagaimanapun, dalam alur pengalaman saya, untuk sebuah kampanye di ajang kontestasi pemilihan umum, yang lebih terdengar nyaring adalah kalimat, “pilihlah saya karena saya yang terbaik”. 

Namun, Andi Sudirman Sulaiman justru menganjurkan untuk memilih pemimpin yang terbaik dan hal ini memberi warna baru yang cukup ‘mencerahkan’ di zaman ketika sebuah ajang Pilkada penuh dibaluri oleh semangat saling menjegal, saling menafikkan dan bahkan saling menghujat.

Dalam tataran tertentu, kalimat Andi Sudirman Sulaiman membawa oase sejuk dalam suasana ‘panas-dingin’ wilayah Pilkada Sulsel. Sebuah kalimat yang meletakkannya sebagai sosok yang telah melampaui dirinya sebagai seorang politisi dan telah bergerak menapaki ‘maqam’ seorang negarawan. Uniknya, karena Andi Sudirman bisa dikatakan masih sangat ‘muda’ dalam ranah dan kiprah politiknya.

Kalimat yang meluncur dari Andi Sudirman memang memiliki daya gugah yang sangat kuat dalam sebuah area yang selama ini lebih banyak diidentifikasi sebagai area penuh ‘intrik’. Area yang membuat orang mampu menghalalkan segala cara untuk menaiki tangga kekuasaan. Area yang lebih banyak dilihat sebagai tempat yang nir-moralitas, nir-integritas dan penuh dengan polesan dekoratif semata. 

Kehadiran Andi Sudirman dalam ruang-ruang politik Sulsel menjadikan wilayah ini seperti kembali menanam harapan. Sosok muda yang kembali meletakkan politik pada koridor kemaslahatan rakyat dan menjadikan kekuasaan sebagai ranah untuk melayani rakyat. 

Dalam konstalasi wajah politik, khususnya di Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman telah meletakkan dimensi kepemimpinan yang bercorak transformatif. Sebuah wajah kepemimpinan yang ‘memberi’ dan bukan ‘mengambil’. Sosok pemimpin yang ‘mencerahkan’ dan bukan ‘mencerabut’. Yang ‘menginpirasi’ dan bukan ‘mengintimidasi’. Dalam sosoknya, dia tampil utuh dalam garis lurus antara perkataan dan perbuatan.

Setidaknya, Sulsel memang layak berharap banyak dengan kehadiran Andi Sudirman Sulaiman. Dan kita, rakyat kecil ini, kembali bisa merasakan sebuah kepemimpinan yang meletakkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan penuh dan bukan hanya sebagai ‘alat ungkit’ untuk seseorang dalam meraih privelege kekuasaan. Semoga. ***
Diberdayakan oleh Blogger.