Jalan Berkelok Menuju Kedaulatan Pangan


PERJALANAN mencapai kedaulatan pangan di negeri ini menjadi sebuah catatan kisah menarik tentang bagaimana sebuah bangsa ‘terbangun dari tidur panjang’ dan berusaha melepaskan diri dari ‘mitos’ ketidakberdayaan dan ketergantungan pangan dari bangsa lain. 

Sebuah kisah yang ‘berkelak-kelok’ penuh perjuangan, kerja keras dan ‘berdarah-darah’ dalam melawan, baik tata niaga global yang kerap tidak adil serta sikap inferior bangsa sendiri yang demikian mapan telah ditancapkan kolonialisme dulu untuk ‘menina-bobokan’ bangsa ini.

Ketergantungan akan impor pangan dengan segenap cerita propaganda yang menyertainya, menjadikan bangsa kita senantiasa dibuat ragu dengan hasil kerja sendiri. 

Ironisnya, propaganda tentang ketidak-mampuan bangsa ini untuk mandiri dan berdaulat secara pangan, justru kerap dihembuskan sendiri oleh anak bangsa sendiri yang meletakkan ideologi ekonomi-pangannya berbasis ‘impor minded’.

Namun sebuah zaman punya sifat memiliki ’daya lenting’ sendiri ketika situasi tersebut telah berada pada titik nadir. Ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberi amanah  pada Andi Amran Sulaiman sebagai Menteri Pertanian, era kemandirian pangan pun mulai ditancapkan. Kerja keras untuk membalikkan situasi dari ketergantungan pangan akan impor menuju kemandirian pangan dengan menjadikan petani sebagai garda depan kemajuan pertanian nasional mulai diletakkan.

Upaya ini jelas tidak main-main. Pemerintahan Jokowi-JK bahkan telah menjadikan sektor pertanian sebagai salah satu visi-misi dalam program Nawacita-nya yang diharapkan mampu menjadi sektor penunjang pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Dan lebih dari itu, upaya menuju kedaulatan pangan ini jelas membutuhkan strategi kebijakan yang bertipikal mendobrak dan terobosan program yang mumpuni.

Hal ini harus dilakukan mengingat sektor pertanian dan semua yang melingkupinya memang terlanjur terbelit banyak problema, mulai dari semakin menurunnya jumlah luas lahan pertanian yang berubah menjadi pemukiman, semangat dan kesejahteraan petani yang terseok-seok hingga tata niaga pangan yang lebih menguntungkan middleman (pedagang perantara).

Yang menarik dari kisah perjalanan menuju kedaulatan pangan ini adalah sejak terpilihnya Andi Amran Sulaiman sebagai Menteri Pertanian. Sejak hari pertama dimanahkan oleh Presiden Jokowi, Menteri Amran langsung menggebrak dengan berbagai terobosan kebijakan. Swasembada pangan strategis, peningkatan produksi dan mengangkat harkat dan kesejahteraan petani adalah ‘gong nyaring’ yang ditabuhnya.

Hasilnya memang layak diapresiasi. Sejak menakhodai Kementerian Pertanian, Andi Amran Sulaiman tidak hanya ‘berbicara’ di belakang meja dan menungggu laporan para staf-nya. Menteri muda energik ini langsung terjung ke pelosok desa menemui petani dan berkubang lumpur sawah untuk memastikan, kebijakan yang dikeluarkan terimplementasi ke bawah. 

Kemampuannya memadukan antara terobosan ide dan gagasan dengan kerja lapangan yang nyaris ‘militan’, membuat Menteri Amran dikenal sebagai sosok yang ‘unik’ dijajaran para menteri Kabiner Kerja Pemerintahan Jokowi-JK. Pernah suatu kali, dia menempuh perjalanan sepanjang ratusan kilo meter hanya untuk memastikan gabah petani diserap oleh pemerintah dengan harga yang layak. Pernah juga, dia datang ke berbagai tempat tanpa sepengetahuan staf-nya dan mengecek langsung model pelayanan di lingkup Kementan.

Namun satu hal yang membuat banyak pihak mengapresiasi cara dan gaya kerja Mentan Amran adalah kemampuannya membangkitkan kembali ‘marwah’ Kementerian Pertanian sebagai institusi pemerintah yang hadir untuk kemaslahatan petani dan menjadikan sektor pertanian sebagai aset sangat strategis nasional dalam pembangunan dan pengentasan kemiskinan. Dengan kata lain, kehadiran Menteri Amran menjadikan sektor pertanian bergerak dalam sinergi yang luar biasa. Menteri Amran mampu merangkul berbagai elemen, mulai dari TNI, Ulama, organisasi kepemudaan, organisasi keagamaan, penyuluh, organisasi perempuan, ibu rumah tangga dan lain-lain untuk bergerak dalam ritme semangat yang sama untuk satu tujuan; menjadikan bangsa ini berdaulat penuh secara pangan.

Kisah tiga tahun kepemimpinan Menteri Amran di Kementerian Pertanian bukannya tanpa hambatan dan kendala. Jalan berkelok dan terjal kerap harus dihadapinya. Serangan dari pihak-pihak yang tak menginginkan Indonesia berdaulat secara pangan kerap dihadapinya. bahkan para “mafia pangan’ menjadikannya sebagai musuh kelas 1. Bahkan dalam takaran tertentu, ‘mafia pangan’ ini mampu memakai ‘tangan’ institusi lain untuk ‘memukul’ semangat kerja Menteri Amran.

Untunglah, dukungan total presiden Jokowi untuk menjadikan Indonesia berdaulat dalam pangan menjadi modal penting Menteri Amran dalam melangkah menghadapi tantangan yang memang demikian besar ini. Bangsa ini pun layak kembali berharap untuk sebuah masa depan di mana pertanian penggerak ekonomi nasional dan sekaligus menjadikan petani sebagai ‘pahlawan’ yang pantas diganjar dengan kesejahteraan.***

Diberdayakan oleh Blogger.