Puisi

5.9.18

2019 Gerakan #GantiParadigma


INDONESIA memang surga bagi siapapun yang punya gaya hidup ‘nyantai’ seperti saya. Pukul 09.00 pagi, saya sudah nongkrong di Warung Kopi (Warkop) dekat rumah. Menyeruput kopi dan asyik ngobrol ngalor-ngidul, mulai dari politik, urusan rumah tangga hingga kasus perceraian artis komedian Sule. 

Beberapa kawan yang berstatus PNS dengan uniform gagah-nya itu juga ikut nimbrung. Kadang saya mengagumi kawan-kawan PNS saya ini. Masih pukul 09.00, mereka sudah ‘stanplas’ atau mangkal di Warkop. Pasti pekerjaan mereka sudah beres sehingga sepagi ini sudah bisa ngaso bin istirahat. Kinerja PNS seperti ini layak mendapat apresiasi penuh dari publik. 

Satu hal yang paling menyenangkan dari kekompakan kami di Warkop adalah bermain game/gawai Mobile Legend. Permainan ini demikian keren. Diperlukan konsentrasi, kekompakan, jiwa patriot dan kejelian strategi dan taktik. Barangkali hanya di Indonesia, khususnya kota Makassar, warung kopi menjadi institusi pendidikan tentang bagaimana kekompakan diaplikasikan dengan dengan sebuah permainan gawai. Keren kan?

Namun, kali ini permainan yang sedang seru-serunya tersebut di bypass oleh kawan saya. Duduk tepat di sampingku, dia mulai menggerundel. Tak jelas apa yang menjadi gerutukannya. Lalu mendadak, dia menyemprot saya dengan kalimat yang mirip digunakan para kaum pergerakan pada era perjuangan kemerdekaan.

“Bung ! Negeri ini makin butuh asupan vitamin integritas dan intelektualitas. Kita sangat perlu cendekiawan sebesar Sujatmoko, Romo Mangunwijaya, Gus Dur hadir kembali. Negeri ini makin ‘gila’. Politik kita sudah berlari sempoyongan sambil teler berat”.

Saya yang sedang dipuncak kenikmatan permainan tak memedulikan ocehannya. Tapi dia nyerocos terus. Bangsa kita memang tidak siap masuk pada jalur bangsa-bangsa adidaya. Bahkan dicatat sebagai bangsa ‘new emerging force’ saja belum layak. Kita ini bangsa yang belum bisa ‘menyelesaikan masa lalu’, bangsa yang satu kakinya tertancap kuat dipasungan psikologis bangsa ‘inlander’ yang inferior dan hanya bisa menjeritkan keluhan serta menimpakan semua kesialan hidupnya pada orang lain. Bangsa yang demikian gampang diprovokasi dan termakan propaganda. bangsa yang memang kadar kepribadiannya baru pada level ‘taman kanak-kanak’ yang gampang diobok-obok dan di pecah-belah.

Saya mulai menyerngit meliriknya. Ada apa lagi ini? Sementara kawan-kawan PNS saya yang tadi seru bercengkerama perlahan-lahan, satu-per satu beranjak pergi dengan meninggalkan jejak senyum kecut.

Tapi kawan saya tak memedulikan itu semua. Dia terus saja berceloteh nyaring. “Bung tahukan, ada gerakan yang menamakan dirinya gerakan #GantiPresiden itu? Gerakan ini lucu, menggelikan dan sangat kekanak-kanakan”, semburnya. Mereka menganggap solusi bangsa ini demikian gampang diselesaikan dengan ganti ini, ganti itu. Cara pandang dan paridigma keilmuan mereka sudah berkarat dan hanya bisa berkeluh kesah, menghujat, membenci dan dikunyah habis oleh berbagai propaganda. Yang perlu saat ini adalah gerakan 2019 #GantiParadigma.

Kali ini saya tak tahan lagi untuk mendebatnya. “Lah ini kan negara demokrasi, gerakan itu adalah ekspresi demokrasi kita. Semua warga negara berhak bersuara, berkumpul dan mengekspresikan sikap politiknya. UUD melindungi hal itu Bung !”, kataku ikut-ikutan memanggilnya Bung.

“Lha, saya tidak ngomongin demokrasi, Bung !”, semprotnya. Yang saya omongin gerakannya. Psikologis gerakannya dan mentalitas menganut dan pendukung gerakan ini. Mereka menganggap persoalan bangsa hanya disebabkan oleh satu orang yang bertitel Presiden. Sama seperti gerakan mahasiswa tahun 1998 dulu yang menganggap dengan turunnya Soeharto, maka dengan sendirinya Indonesia menjadi sejahtera, makmur, gemah ripa loh jinawi. Mentalitas model begini tak akan mampu bersaing dengan negara lain. Lihatlah Cina, Korea, Singapura, Jepang. Bagaimana bangsa ini bekerja, berkeringat, berjibaku dan membangun mentalitas pemenang bukan mentalitas pecundang.

Saya mulai tertarik. “Ini gerakan politik Bung !. Dan sah-sah saja di sebuah negara dengan sistem demokrasi. Kan ada juga gerakan dengan kalimat #TetapJokowi. Jadi Apa bedanya?.

“Ya jelas beda. Gerakan #TetapJokowi itu menunjuk pada sesuatu. Pada seseorang. Meletakkan basis politiknya dengan jelas dan tegas. Mereka mendukung Jokowi dan dukungan itu dimaklumatkan. Sedangkan gerakan #GantiPresiden ini tidak jelas ‘jenis kelaminnya. Ini bisa disebut gerakan banci. Nggak tahu apa yang ditawarkan. Yang mereka pakai adalah psikologi ‘ngotot’. Pokoknya ganti, pokoknya bukan itu. bangsa mau bertambah baik atau bertambah buruk, pokoknya ganti. Ini konyol dan sangat lucu untuk sebuah gerakan politik.

“Lebih konyol lagi, gerakan ini memakai simbol dan idiom-idiom keagamaan. Agama diseret-seret masuk di sana. Dipreteli , dipermak serta dibumbui dengan kadar emosi yang menjulang. Dibaluri dengan sentimen seakan-akan umat Islam dizalimi sedemikian rupa. Umat Islam diprovokasi untuk membenci, dibujuk untuk mencaci-maki, diberi ‘amunisi’ untuk menyebarkan berita bohong dan dinina-bobokkan seakan-akan semua penderitaan mereka bakal tuntas dan kesejahteraan akan menjemput mereka dengan cara mengganti seseorang”.

Lalu, kawan saya menyeruput kopinya dalam-dalam dan tuntas habis. “Aku pulang dulu Bung! Kabarkan ini pada siapa pun yang masih punya kewarasan mental dan tolong kopi saya dibayarkan ya?”, katanya langsung ngeluyur pergi.

Saya melongo bingung tak terkira. Bukan karena wejangan dan celotehnya. Namun kalimat terakhirnya yang minta bayaran kopinya dibereskan. Padahal, jujur, saya hanya membawa uang pas untuk 1 gelas saja. ***