Puisi

4.9.18

Azan, Pengeras Suara dan Kawan Saya


“JUJUR ini masalah sensitif. Menyangkut nukleus perputaran saraf-saraf keyakinan atau dipersepsi sebagai keyakinan. Jangan main-main kalau sudah masuk dalam ‘zona’ seperti ini. Harus serius dan siap untuk ‘memusatkan’ segenap energi emosi tepat di ujung telunjuk dan urat leher”.

Kawan saya memulai ocehannya. Kali ini, dia nongol ketika saya sedang menikmati seremoni penutupan gelaran Asian Games yang sukses di TV.

Ada apa ini? Masalah sensitif apa-an?, kataku sekenanya. “Nah! Kamu memang hanya ‘katak dalam tempurung’, sejenis burung onta yang tak mau melihat realitas dengan menyembunyikan kepalanya di tanah”, sembur kawanku itu.

Ocehannya pun mengalir deras. Bangsa kita memang sudah sakit. Segala sesuatu dinyinyirin dengan memakai metodelogi ‘dizholimi’. Bahkan hal yang sebetulnya hanya sepele dan tetek-bengek, kita menggelembungkannya menjadi sebuah peristiwa yang sudah menyangkut ‘hidup-matinya’ umat Islam di negeri ini. 

Persoalan azan dengan memakai pengeras suara contohnya, sembur kawan saya itu. Kenapa demikian dipermasalahkan? Karena kita hanya memaknai azan sebagai simbol bukan sebagai hakekat. Kita menganggap azan adalah maklumat dan dekrit kemenangan dan bukan sebagai bagian dari sebuah peroses peneguhan kembali. 

Karena kita anggap sebagai maklumat kemenangan, maka sebagaimana tradisi kemenangan yang berlaku, kita merayakannya dengan kebisingan. Kita dengan ego yang membumbung mewajibkan semua mahkluk di atas bumi ini harus mendengar dan mengetahuinya. 

Padahal, perintah shalat yang diterima kanjeng Rasulullah berpuncak pada  ‘hening’. Melalui proses gemuruh batin yang ribut dan berakhir dalam dimensi ketenangan yang hening. Asal engkau tahu, kata kawan saya, semua ajaran spiritualism senantiasa melalui tahapan tersebut. Keheningan adalah pucuk batin spritualism yang bisa mempertemukan kita dengan kebenaran sejati. 

Azan itu panggilan, seruan kepada umat muslim untuk menegakkan shalat. Jadi harus diperdengarkan ke umat, kataku. 

“Lha, kalau Anda harus setiap waktu ‘dicereweti’ dengan cara itu, berarti Anda memang sejenis makhluk bebal. Pelupa dan hanya mengingat Allah ketika seruan azan dengan speaker menggema itu memborbardir telinga Anda”, semprot kawan saya. 

Kadang memang kita ini konyol dan menggelikan. Mau ketemu dengan Yang Maha Hening tapi mesti dipanggil pakai segala macam keributan itu. Efek yang terjadi, Anda bukan mau menegakkan shalat tapi menegakkan gelembung ego Anda. Padahal, dalam shalat, segala macam ego manusia harus didiskualifikasi, dihilangkan, diheningkan.

“Tapi ini bukan shalat. Ini azan. Prolog sebelum shalat. Kamu dipanggil. Paham! Lagian apa salahnya dengan pengeras suara.”, saya mulai naik pitam.

Kawan saya terbahak. Makanya, saya katakan kita itu hanya meributi permukaan. Membisingi buih-buih di lautan. Kita hanya makhluk ‘seolah-olah’ dan ‘sekonyong-konyong’. Hanya bisa ‘tarik urat leher’ di sekitar kata pengantar sebuah buku. Dan belum bisa dengan jernih mengulas isi buku. Kita ini ‘kulit kacang’.

Saya tak lagi mendengar apa ucapan kawan saya itu, Karena suara azan dari masjid sebelah rumah ‘membahana’. Dan Alhamdulillah, saya sangat senang mendengar suara azan ini, karena dengan begitu suara cempreng kawan saya ini tak lagi masuk ke telinga saya. ***