Puisi

6.9.18

Dollar Naik, Kiamat Sudah Dekat


MASIH ingat film dengan judul “Kiamat Sudah Dekat”? Ini salah satu jenis film yang cukup elok. Dikisahkan dengan genre humor religi namun cukup mengena dalam memotret realitas keseharian kita.

Memang kita ini sangat dekat dengan psikologi ‘alarm’, sifat punishment and reward sangat menonjol dalam karakter bangsa kita. Kita ini bangsa yang hanya bisa bergerak ketika diancam, ditakut-takuti, diiming-imingi untung besar dan diasupi berbagai cerita yang punya daya teror besar. 

Masih ingat ketika kita masih kanak-kanak. Orang tua, tante, paman selalu menggedor kita dengan ancaman, larangan, pimali yang dibumbui dengan cerita horor. “Jangan duduki bantal, nanti pantat kamu bisulan”. “Jangan berdiri depan pintu saat Maghrib, nanti kamu kesambet genderowo”. 

Dan ancaman kiamat sudah dekat dalam film itu mensubtitusikan segala karakter paling purba dari masa kanak-kanak kita. Maka ketika kita dewasa, kita menjadi sebuah pribadi yang lebih mengakar pada pesimisme dibanding sikap optimis. Kita lebih ‘ngejreng’ terkait hal-hal negatif dibanding positif. Berita buruk lebih sensasional daripada berita dengan tone positif. Orang tertimpa nasib sial lebih mengharubirukan energi perhatian kita dibanding kisah inspitatif. Dan di atas segalanya, kita lebih pandai mendemonstrasikan sikap antipati dibanding sikap mensupport dan memberi jalan keluar.

Lalu saat Dollar naik nyaris mencapai Rp. 15.000, banyak dari kita menganggapnya sudah hampir kiamat. Hampir kiamat ini artinya kita sudah di depan pintu krisis moneter dan ekonomi. Kecerewetan kita makin menggila karena kondisi ini tepat bertemu dengan wilayah hiruk-pikuk tahun politik dengan kualitas demokrasi kita yang di bawah standar ideal. 

Maka ramailah percampuran antara rasionalitas keilmuan ekonomi politik dengan gelegak sikap irrasional yang diaduk dalam adonan antipati, kebencian dan kampanye anti pemerintah. Hasilnya, seluruh jejak karakter asupan pendidikan di masa kanak-kanak kita yang sangat dibaluri oleh metode berpikir negatif (negatif thinking) itu merajai suasana hati kita. 

Dollar pun seperti ‘hantu’ yang dipakai menakut-nakuti kita. Lonjakannya membikin kita seperti menonton film horor. Kita seperti Nietzche yang berlari-lari ke pasar dan mengabarkan “Tuhan telah mati” itu dengan menyemarakkan isu dollar naik karena pemerintah tak becus. Dollar naik, kiamat sudah dekat. Nah, ujung-ujungnya, pemerintahan harus diganti. Presiden harus di off side kan.

Lebih ironis lagi, banyak dari kita diam-diam demikian khusyuk berdoa kepada Tuhan agar dollar makin membumbung tinggi. Ada pula yang yang teriak-teriak nasionalime rupiah tapi memborong dollar. Bahkan tak jarang pejabat yang setiap hari menyerukan cintai rupiah melalui pidatonya, justru mereka yang dengan enteng menyimpan bergepok-gepok dollar di berbagai rekeningnya. 

Bangsa kita memang banyak menyimpan ironi dan paradoks seperti itu. Sama seperti pejabat yang terkena OTT KPK, tapi masih saja petantang-petenteng di depan wartawan sambil menebarkan senyum paling renyah. Inilah yang bisa meneguhkan mengapa seorang budayawan besar seperti Mochtar Lubis pernah mengatakan bila salah satu ciri karakter dasar bangsa kita  kita adalah sifat munafik. Sebuah karakter ‘burung onta’ yang selalu menyembunyikan kepalanya di tanah bila sedanf menghadapi sesuatu yang dianggap kengancam kepentingan dirinya. 

Lalu ketika dollar melejit naik yang bermunculan adalah sikap-sikap yang menceriminkan bila sebagai sebuah bangsa kita masih harus belajar untuk menginternalisasikan apa yang disebut persatuan, kebersamaan dan jiwa brotherhood.  Bukan malah karena perbedaan pandangan politik dengan pemerintah yang sedang berkuasa, kita malah mendoakan agar dollar naik terus agar kesalahan bisa kita timpakan pada mereka.***