Puisi

1.9.18

Harga Sebuah Pelukan


ATMOSFIR politik Indonesia mendadak riuh dengan tepukan. Pasal kejadiannya cukup sederhana. Di sebuah petang, di ajang final pencak silat Asian Games 2018, seorang pesilat bernama Yudani Hanifan berjalan ke atas fodium kehormatan. Dan peristiwa itu terjadi. Yudani memeluk bersamaan Jokowi dan Prabowo. 

Momen pelukan antara Yudani, Jokowi dan Prabowo sontak menjadi riuh. Di jagad maya momen ini meledak viral. Media memberitakannya dengan intensitas emosi yang tinggi. Mengharukan memang.

Mengapa sebuah pelukan demikian meledakkan dan mengaduk-aduk kadar emosional kita? Mengapa harga sebuah pelukan demikan tinggi dan sanggup mengharu-biru kan segenap rakyat Indonesia.

Barangkali, ini memang bukan hanya berhenti pada sebuah momen pelukan semata. Barangkali ini adalah wujud lain dari sebuah harapan. Sebuah klimaks dari akumulasi harapan rakyat akan sesuatu yang lebih substasial dari kemanusiaan kita. Sebentuk cita rasa paling agung dalam inti kebersamaan yang demikian didambakan masyarakat kita.

Momen pelukan ini seperti kembali membuka mimpi kita akan arti sebuah berbangsa. Sebuah persaudaran dan persatuan yang pernah menjadikan para faunding fathers kita masuk keluar bui di zaman kolonial dulu. Momen membuat bangsa ini menyatu dalam satu titik yang bernama harapan.

Peristiwa pelukan ini memang terasa demikian membangkitkan rasa romantik bangsa kita. Di tengah selubung udara politik yang demikian bising oleh caci maki, fitnah, hoaks, fake news dan hujatan, peristiwa serupa ini menjadi ‘adegan’ yang bisa menguras rasa emosi kita. Ternyata kita sebagai sebuah bangsa belum benar-benar terperosok dalam jurang kebebalan.

Saya yang lagi asyik mashyuk menikmati kadar emosional peristiwa ini, tiba-tiba diganggu oleh kedatangan seorang kawan. Dan dia menertawakan rasa ‘mewek’ saya yang berlebihan itu. Kecengengan saya divonis sebagai bagian dari tradisi ‘emak-emak’ yang demikian gandrung dengan tontonan ‘sinetron’ yang artifiasial. Sejenis emosi yang sama sekali hanya berhenti pada sebuah proses ‘mengasihani diri sendiri’. 

Saya langsung menghujat kawan saya itu. Kataku, dia benar-benar tak lagi punya rasa nasionalisme. Tak punya peri kemanusiaan dan minus rasa simpatik serta empatik.

Kawan saya terbahak mendengar caci maki saya. Nah inilah contohnya kalau kita meletakkan sebuah pelukan hanya dalam kadar ‘katak dalam tempurung’. Menurut kawan saya, politik itu sebuah tontonan, sebuah jagad ‘simulacra’-nya filsuf Bauddrilard. Tak ada substansial di sana. Semua dangkal dan hanya berputar di permukaan. Dan kalau ente masih berpegang dalam model serperti ini, maka yakinlah, besok atau lusa ente bakal ‘menggerundel’ lagi dalam kekecewaan.

Kawan saya terus nyerocos tak terbendung. Saat ini kita tak akan menemukan kemurnian lagi, bahkan untuk sebuah pelukan. Jagad kita telah dirampok oleh hyperrealitas. Telah dijajah oleh perspektif ‘orang-orang gua-nya Plato yang menyangkan bayangannya sendiri adalah realitas’. Anda telah ditipu mentah-mentah oleh hyperrealitas. 

Harga pelukan tidaklah sebegitu mentereng dan mewah, karena dia adalah eksistensi kemanusiaan kita. Setiap detik momen pelukan terjadi entah di belahan dunia mana. Dan dia mengalir demikian saja, karena memang harus terjadi. Ibu memeluk anaknya, ayah memeluk putrinya. Seorang kawan lama berdekapan lama setelah berpisah. Segalanya mengalir dan seadanya.

Yang membedakan, kata teman saya itu, momen pelukan di fodium tersebut karena kita menganggapnya sebagai sebuah tontonan sinetron dan memang hanya sinetron yang bisa membuat kita ‘mewek’ serta histeris saat ini.

Saya tak lagi mendengar apa yang kawan saya kicaukan itu, karena saya sibuk menelpon istrinya dan menyuruhnya menjemput suaminya yang saat ini lagi kumat kegilaannya.***