Puisi

26.9.18

Haringga, Fanatisme dan Kebencian


KITA tak tahu pasti, bagaimana sebuah fanatisme bisa bertumbuh dan menjadi gumpalan racun kebencian dalam seluruh aliran darah seseorang. Tapi hari itu, ketika seorang anak muda, Haringga, seorang suporter Jakmania, Persija Jakarta tewas dikeroyok oleh kelompok supporter Persib Bandung, kita menjadi paham betapa mengerikannya sebuah fanatisme ketika sel-sel aliran darahnya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan.

Sebuah fanatisme dalam akar sejarahnya merupakan sebentuk proklamasi identitas jati diri pada sebuah komunitas atau puak. Dia hadir dalam rasa memiliki yang demikian keras dan kaku. "Kami dan mereka" berdiri berhadap-hadapan dengan semangat meniadakan satu sama lain.

Sebuah buku lawas dari pemikir sosial (psikoanalisis) Jerman, Erich Fromm “Lari dari Kebebasan”, sedikit banyak bisa mengurai akar psikopatologis dari fanatisme tersebut. Menurutnya, fanatisme terhadap sesuatu merupakan sejenis bentuk psikopatologis seseorang yang sangat cemas dengan ketiadaan identitas diri. Kebebasan menjadi monster yang paling menakutkan karena dalam kebebasan tersebut, rasa keterasingan bisa demikian mencemaskan. Dengan begitu, orang bertindak dengan lari dari kondisi ini dan meleburkan dirinya pada sebuah kelompok, entah itu ideologi atau pun sebuah komunitas supporter olah raga (bola) misalnya. 

Di dalam kerumunan kelompok inilah, seseorang tak lagi merasa punya tanggungjawab. Di sana yang ada adalah sebuah kerumunan yang meniadakan semua potensi rasional dari manusia. Tak ada pertimbangan moralitas, etika apalagi kemanusiaan, karena yang mendominasi adalah kultur kerumunan. sbuah budaya massa yang tak mengenal tenggang rasa, apalagi sikap bertanggungjawab pada apa yang dilakukan. 

Segalanya menjadi “hitam-putih”, di mana kebenaran adalah hak prerogatif kelompok mereka dan mereka, yang lain itu adalah personifikasi dari segala keburukan dan kejahatan. Begitulah sebuah fanatisme yang dirawat dalam budaya kebencian. 

Hari itu, kita mungkin terperangah, mengapa sebuah komunitas pencinta bola bisa demikian beringas serta kalap melenyapkan nyawa orang lain yang diidentifikasinya sebagai pihak musuh. Mengapa nyawa demikian murah, padahal mereka pencinta olah raga bola. Namun, barangkali kita sedikit lupa bahwa fanatisme yang dibangun dengan kebencian bisa 'meledak' dan hal apa pun di luar nalar dan akal sehat kita bisa terjadi, termasuk membunuh dan membantai seluruh kemanusiawan kita yang beradab. 

Fanatisme dalam kultur kebencian ini merupakan kesalahan kita semua, karena kita telah sekian lama menolerir potensi tersebut. Tengoklah media sosial kita yang setiap hari menyemburkan caci maki, hujatan, serapah dan ujaran kebencian. Kita diam atau mungkin secara tak sadar ikut dalam arus kebencian tersebut dan memaksa orang lain untuk ikut membenci. Kultur kebencian telah jauh merangsek sisi paling lembut dalam diri kita. Dan ketika di dipoles dalam wilayah fanatisme maka lengkaplah sisi paling kelam dari wajah kita saat ini.***