Puisi

8.9.18

Indonesia dan Betapa Anehnya Perilaku Kita


SEWAKTU kecil, setiap kali merasa serangan minder dan sifat inferioritas saya ‘mengamuk ketika berdiri di depan publik, ibu saya selalu dengan lembut mengatakan, “jangan malu, anggaplah orang-orang di depanmu rumput. Dan saya pun bakal mengerahkan seluruh kemampuan imajinasi untuk ‘menyihir’ orang-orang di hadapanku menjadi rerumputan. 

Beberapa waktu lalu, di televisi saya menyaksikan puluhan anggata legislator daerah (DPRD) Malang yang lagi terkena OTT KPK karena diduga menerima suap, demikian ringan tersenyum renyah di depan wartawan yang ramai meliputnya. Bahkan, para anggota yang mulia dan terhormat tersebut kompak melambaikan tangan sambil senyam-senyum cengir cengengesan dengan kadar setingkat malaikat yang tanpa dosa. 

Saya yang melihat tontonan ini sontak menerka-nerka. Apa yang ada dibenak para anggota dewan terhormat tersebut? Pastilah dia membanyangkan, para wartawan dan publik Indonesia adalah rerumputan, sama ketika saya semasa kanak-kanak. 

Barangkali memang demikianlah ruang-ruang psikologis yang mendominasi pada umumnya kita bangsa Indonesia. Sebuah keterbelahan psikis yang tidak lagi menyambungkan antara saraf-saraf di otak, nurani di hati dengan gaya perilaku di keseharian. Segalanya karut marut, centang perenang dan saling tak sejalan. Ketebelahan jiwa dan psikis ini sangat menonjol terutama di ranah politik dan hukum kita. 

Coba kita bayangkan, seorang yang keciduk menilep uang rakyat atau ketangkap tangan menerima sogokan atau memberi sogokan, bukanya malu dan merasa kehilangan muka serta harga diri. Yang terlihat, justru mereka memanfaatkan momen ini dan menjadikannya ‘panggung’. Bahkan ada yang blingsatan ngomong bila mereka tengah dizalimi. Ini memang salah satu ironi dan paradoks besar terkait karakter kita sebagai bangsa.

Namun, agaknya fenomena semacan ini bukalah hal yang baru. Bahkan Mochtar Lubis, budayawan dan sastrawan besar Indonesia pernah menulis buku tipis yang membikin kita terperangah. Mochtar Lubis menulis bahwa sebagai sebuah bangsa, kita mengidap karakter yang ciri-cirinya didominasi oleh sifat hipokrit (munafik), tak mau bertanggungjawab dan lain-lain. 

Mungkin Mochtar Lubis terlalu berlebih-lebihan dalam menjugde dan mengeneralisir terkait watak bangsa kita. Karena bagaimana pun sebuah karakter merupakan percampuran adonan dari berbagai faktor seperti genetik warisan orang tua, lingkungan, pendidikan dan asupan pergaulan. 

Tapi ketika menyaksikan, para tersangka korupsi anggota dewan yang tersenyum demikian renyah sambil melambaikan tangan di depan kamera wartawan, saya, mau tak mau dipaksa membenarkan hipotesa Mochtar Lubis ***