Puisi

12.9.18

Musim Caleg


TERUS terang saya tidak tahu sejak kapan istilah tahun politik menjadi populer diperbincangkan dan dipopulerkan media massa. Saya menerka mungkin sejak peraturan tentang pilkada serentak diberlakukan. Atau mungkin sejak pemilihan umum langsung menjadi bagian dari tradisi politik dan demokrasi di negeri ini. 

Namun, kapan lahir dan bagaimana silsilah keberadaannya, mungkin tidak penting. Yang menarik justru dinamika yang terjadi serta bagaimana konstruksi persepsi, sikap dan cara kita memaknai tahun politik tersebut. 

Saya berada dalam ranah pikiran ini karena sejak beberapa waktu lalu, sejak lembaga yang ngurusi pemilihan umum, KPU mulai membuka pendaftaran bakal calon wakil rakyat di berbagai tingkat mulai pusat, propinsi hingga kota/kabupten., serbuan pesan singkat, SMS, WhatsApp serta semua akun medsos saya dibanjiri oleh teman-teman, sahabat, keluarga, om, tante, ponakan yang meminta dukungan atau sekadar menginfokan bila dirinya saat ini masuk dalam jajaran calon elite politik tanah air. Artinya, mereka sedang butuh dukungan suara untuk bisa terpilih jadi wakil rakyat.

Fenomena ini menjadi menarik. Dulu sewaktu sekolah dan kebetulan diberi berkah duduk di bangku kuliahan, yang namanya anggota dewan atau pun yang masih calon anggota dewan wakil rakyat itu demikian terasa jauh berjarak. Yang namanya elite politik itu bagai gemerlap bintang-bintang di langit nun jauh di sana. Mereka adalah orang-orang  yang sangat ekslusif dengan tembok tinggi menjulang sehingga rakyat kecil semacam saya tak mampu atau tak diberi akses sekecil lubang semut pun untuk mengetahui keseharian mereka. 

Namun sejak reformasi 1998 berhasil meruntuhkan tembok eksklusifitas politik terpusat ala Orde Baru dan demokrasi liberal di tancapkan pada dinding-dinding konstitusi kita, maka zona politik beserta para politisinya meluber dan mencair. Pusat-pusat dinamika politik Indonesia tidak lagi tersentralisir di poros Jakarta, namun mulai bermigrasi ke daerah-daerah. 

Hal ini otomatis menjadikan ranah politik kita semakin tak berjarak. Dipercepat oleh media sosial yang memupus keberjarakan, semakin membuat politik kita kehilangan pesona eksklusifnya. Dia hadir seperti menu sehari-hari dan tak berbeda dengan keberadaan alfamart atau indomaret yang merambah hingga pelosok tanah air. 

Maka ketika memasuki musim Caleg (calon legislatif) seperti saat ini, kita pun menjadi demikian karib dan tak berjarak dengan para ‘kesatria’ politik kita. Musim Caleg bergemuruh tepat di depan hidung kita. Kawan, sahabat, tante, om, tetangga, mantan pacar dan lain-lain mendadak menjadi politisi dan butuh dukungan suara dari kita. Ini fenomena luar biasa. Politik Indonesia membikin kita merasa diperlukan. Dan semoga setelah mereka kita beri mandat, mereka tak melupakan kita, dan segenap janji yang mereka luapkan untuk kebaikan dan kesejahteraan bangsa ini. ***