Puisi

1.10.18

Bencana dan Membaca Duka


GEMPA dan tsunami yang terjadi di Palu dan Donggala benar-benar membuat kita merasakan duka yang dalam. Korban berjatuhan dan terus bertambah setiap hari. Musibah ini memang terasa perih. 

Dalam situasi yang penuh rasa duka ini, saya mendadak merindukan kawan yang biasa datang atau mengirim pesan singkat bila sesuatu peristiwa seperti ini tengah melanda kita. Terus terang saya butuh ‘hentakan’ kawan saya ini untuk sekadar memberi vitamin agar guncangan mental ini mengalami keseimbangan kembali.

Sampai 3 hari setelah musibah ini, kawan saya belum juga datang atau menginformasikan apa-apa, sampai tadi malam dia muncul dengan wajah yang sedikit aneh. Tidak seperti biasa bila kejadian begini, wajahnya nampak cerah berbinar. Saya tak memperdulikan air mukanya yang sedikit buram dan muram itu. Saya memberondongnya dengan pertanyaan; kawan beri saya sedikit gugahan, guncanglah saya dengan cara pandangmu, bangunkan saya dari duka mendalam ini. 

Kawan saya itu diam sejuta bahasa, hanya melirik sepersekian detik lalu melemparkan kembali tatapan kosongnya ke tembok. Lalu kami diam. Tak ada sedikit pun desir suara. Bahkan aliran napasnya pun tak bisa kusimak. 

Selama kurang lebih 1 jam, kawan saya itu tak bersuara. Awalnya saya gelisah, namun perlahan saya mulai meletakkan kediaman dan keheningan yang terbangun sebagai bahasa tersendiri. Lalu mendadak kawan saya berdiri dari duduknya. “Saya permisi pulang dulu, Assalamu Alaikum”, lirihnya. 

Saya hanya bisa memandangnya bergerak pelan menjauh, Waalaikum Salam”, ucapku juga pelan. Keheningan yang diciptakan kawan saya ini terus berlanjut setelah kepergiannya. Hening. Sunyi itu terasa perlahan mengalir ke seluruh sel-sel darah saya. Mengumpul dalam tarikan dan hembusan pelan napas yang demikian lirih. 

Tiba-tiba saya menyadari kalau kita memang perlu diam sejenak dan tak banyak mengumbar bicara dalam suasana seperti ini. Kalau kita tak bisa berbuat apa pun untuk membantu dan menolong saudara-saudara kita di Palu dan Donggala, lebih baik kita diam. Berdoa, merekatkan kembali kemanusiaan kita yang tercabik itu. Meneguhkan lagi rasa satu pada alam dan kemanusian. Berdoa dan memohon ampunan dari sifat-sifat merusak yang menjadi sisi gelap kemanusiaan kita. Berdamai dengan diri, orang lain dan seluruh semesta alam ini.

Kita memang perlu diam sejenak. Saya kemudian mengambil telepon seluler dan mematikan akun media sosial saya. Ada rasa sedih dan jengah mengingat di media sosial ini, kita kadang terlihat demikian cerewet, nyinyir dan alih-alih menebar rasa tenang, justru banyak dari kita malah sadar atau tidak ikut menebar hoaks dan menjadikan kondisi semakin runyam, cemas serta penuh menambah rasa takut maupun duka.***