Puisi

26.10.18

Berebut Wacana dalam Kebencian


SAAT ini dunia semakin gesit dalam gerak perubahan. Bisa dikatakan, tak ada lagi sebuah kekuatan -baik itu negara, perusahaan apalagi perorangan- yang mampu mengklaim dirinya menjadi pusat pengendali dunia. Pusat-pusat kekuasaan yang di abad 19 dan abad 20 dikendalkan oleh negara dan perusahaan multi nasional, kini tak berlaku lagi. Segalanya seperti  tercerai-berai. Saat ini dunia sedang berada pada level dekonstruksi -kalau tak ingin menyebut- destruksi- paradigma.

Sebuah buku dengan judul menarik “Berebut Wacana” dengan sub judul: “Pergulatan Wacana Umat Islam Indonesia” yang ditulis Carool Kersten bisa sedikit menjelaskan kondisi ini dalam konteks Indonesia, khususnya dalam paradigma keislaman yang telah sekian abad menjadi ruang pengucapan religiusitas umat Muslim Indonesia.

Cendekiawan Yudi Latief dalam kata pengantar buku tersebut menulis: “ Islam Indonesia kerap dilukiskan dalam relasi dan kontestasi antara Islam tradisionalis dan modernis. Reformasi 98 membuka horizon pemahaman baru. Inilah struktur peluang politik baru yang memberi panggung bagi umat Islam untuk memainkan peran sosial politik yang makin besar di ruang publik Indonesia.

Dalam memainkan peran baru ini, umat Islam ternyata bukanlah kubu yang seragam, melainkan beragam, di mana kelompok-kelompok intra-Islam mengajukan agenda dan wacananya sendiri. Kontestasi wacana ini bukan hanya menyangkut peran sosial politik Islam di ruang publik, tetapi lebih jauh lagi menyangkut hakekat Islam itu sendiri sebagai  agama. Spektrum kontestasinya amat luas , merentang dari sekadar persoalan perbedaan fikih hingga perbedaan akidah, yang bahkan berujung pada kekerasan fisik..”

Yudi Latif secara jitu menggambarkan sedikit problema dunia Islam dalam konteks Indonesia paska 98. Kebebasan teknologi informasi semakin memperlaju ‘pergesekan’ tersebut. Di sana, ruang publik dipenuhi dengan ‘pertarungan’ memenangkan opini publik dan lebih jauh lagi bergerak ‘menghalalkan segala cara’ untuk merebut dominasi wacana dengan melepas berbagai berita bohong (hoaks) dan propaganda yang bermuatan hasutan.

Gambaran ini dengan jelas kita alami sehari-hari, baik dalam dunia media sosial (medsos) maupun ruang-ruang publik lainnya. Perebutan wacana ini -tidak seperti lazimnya dalam dunia intelektual yang sangat ketat dengan metode keilmuan- sarat penuh dengan sentimen emosional yang membumbung. Proses saling menafikkan dan menegasikan antara satu dengan yang lain demikian kental. 

“Berilah mereka senjata, maka akan kita lihat medan peperangan akan meletus dan menumpahkan darah di sana”, demikian kata seorang teman.

Dan kita mungkin merasa jerih mendengarnya. Perebutan wacana yang dilandasi kebencian memang sangat memiriskan. Sejarah semacam itu telah beberapa kali mencatatnya. Dan kadang kita lupa akibat mengerikan yang bakal terjadi dalam bayang-bayang kebencian semacam itu.***