Compassion, Empati dan Loyalitas


PENULIS buku bestseller Sejarah Tuhan, Karen Armstrong pernah menulis buku dengan judul ringkas; Compassion. Buku ringkas ini bercerita tentang bagaimana langkah-langkah praktis menuju cara hidup berwelas-kasih (kasih sayang). Berbeda dengan buku bergenre “motivasi’ yang banyak laris manis di pasaran, “Compasion” karya Karen Armstrong ini lebih ‘menunjuk’ ke dalam diri. Lebih ‘menjelajahi’ ruang-ruang paling tersembunyi dari kita yang kerap ditumpuki oleh lapis-lapis ego sentris, digenangi lumpur kesombongan serta menampakkan batin cermin yang buram karena merasa diri lebih baik, lebih cerdas serta lebih punya kekuasaan dibanding orang lain.

Buku Compasion karya Karen ini, dalam takaran tertentu mendekati kita dengan lembut untuk mampu melihat segala potensi ‘keburukan’ yang setiap hari kita sembunyikan dengan rapi. Buku ini membantu kita, seperti kata Karen Armstrong mencoba “melihat ke dalam hati kita sendiri, menemukan apa yang membuat kita tersakiti, dan kemudian menolak, dalam keadaan apapun, untuk menimbulkan rasa sakit itu pada orang lain”.

Seluruh ulasan Karen dalam buku ini memang menohok paradigma kemanusiaan kita dengan lirih dan lembut. Bahwa segala yang kita banggakan, sukap jumawa dengan ketinggian hati itu pada akhirnya hanya ‘fatamorgana’ belaka. Segala pernak-pernik realitas yang setiap hari kita anggap sebagai gantungan eksistensi kita ternyata hanyalah ‘hiasan’ lampu yang suatu saat bakal redup dan mati.

“Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”, begitu kalimat sebuah pepatah orang tua kita. Dan di sanalah kita bisa berefleksi tentang bagaimana nama yang bakal kita tinggalkan kelak di kemudian hari.
Peradaban modern dengan segala sengkarutnya memang kerap membikin kita kehilangan relasi dengan hati nurani; sumber dari segala potensi yang memancarkan jiwa welas kasih (compassion), empati dan kerendahan hati (tawadhu).  Pusaran kekuasaan, kekayaan serta merasa berilmu adalah zona nyaman yang mampu membikin kita ‘besar kepala dan rasa egois yang membumbung”. 

Dalam gelembung zona nyaman itulah kita kadang menjadi “kacang lupa akan kulitnya”. Menjadi seonggok daging tanpa nurani dan menjadi makhluk yang demikian oportunis, pragmatis dan melupakan semua jejak tumbuh keberadaan kita dalam sebuah proses yang terus menjadi itu. Pada jiwa semacam ini, bisa dipastikan di dalamnya tak ada apa  yang disebut loyalitas. Sebuah kesetiaan yang meletakkan diri bahwa eksistensinya saat ini tidak luput dari sumbangsi jasa orang yang pernah membantunya. Pada jiwa seperti ini, semua gerak batinnya hanya dibaluri oleh sakwasangka, kecurigaan, dengki dan iri hati. 

Buku Karen Armstrong ini memang menguliti semua potensi yang membikin kita tak bisa merasa bahagia, tak mampu bersyukur serta tak dapat menghargai apapun seperti persaudaraan, cinta kasih dan rasa kemanusiaan. Peradaban modern bisa membuat kita kehilangan hal yang paling berharga tersebut.*

*Tulisan ini pernah dimuat di smartcitymakassar.com


Diberdayakan oleh Blogger.