Ratna Sarumpaet, Kebohongan, Politik dan Sastra


DRAMA politik ini diawali ketika tersebar kabar di media sosial, Ratna Sarumpaet dianiaya sekelompok orang di bandara Bandung beberapa waktu lalu. Foto Ratna dengan wajah yang cukup bengkak (babak belur) menjadi viral. Lalu Ratna menjadi magnet yang demikian kuat menyedot rasa keprihatinan kita semua. Apalagi diketahui selama ini, Ratna Sarumpaet dikenal sangat getol mengkritisi pemerintahan Jokowi dan kebetulan pula dia masuk dalam tim sukses kandidat Capres Prabowo Subianto serta tahun ini adalah tahun politik jelang pilpres 2019 cukup menyempurnakan naskah dan alur cerita 'panggung' politik di negeri ini.

Maka pihak oposan seperti menemukan momentum emas. Tak urung kandidat Capres Prabowo beserta gerbongnya hadir terdepan dalam unjuk keprihatinan tersebut. Protes, tudingan, asumsi dan teori konspirasi membumbung dalam udara politik Indonesia. Polarisasi politik makin menganga tajam. Ini memang kejadian luar biasa di tengah bangsa ini dirundung duka mendalam atas bencana gempa dan tsunami di Palu dan Donggala.

Sangat paham situasi ini sangat rawan memicu konflik horisontal, maka pihak Polri dengan gerak cepat turun menyelidiki kasus ini. Hasilnya sangat mengagetkan. Polisi menemukan Ratna Sarumpaet tidak berada di bandara Badung pada hari H yang diduga terjadi penganiayaan. Ratna, melalui hasil penelusuran polisi menemukan Ratna sedang berada di Jakarta dan lagi di rawat di RS Bina Estetika untuk melakukan perawatan wajah. Hasil penyelidikan ini sangat menggemparkan. Apalagi selang beberapa lama, Ratna mengadakan konferensi pers dan membenarkan hasil penelusuran polisi. Klimas terjadi, Ratna mengakui dirinya berbohong dan memohon maaf. 

Ini memang drama politik paling ‘ngejreng’ dalam jagat politik mutakhir Indonesia. Bejibun asumsi, praduga, analisa mengiringi pengakuan Ratna ini dan kita seperti terpaku di depan layar panggung menanti anti klimaks pertunjukan tersebut.

Saya tak mau menambah garam asumsi dan praduga dalam lautan politik ini. Tapi saya termasuk dalam sekian juta rakyat Indonesia yang sedikit terhenyak. Ratna dengan gampangnya berbohong dan dengan mudahnya mengakui kebohongan itu. Saya tahu dan kenal Ratna Sarumpaet. Kami pernah bertemu dan berdiskusi di masa-masa ktitis bangsa ini di sekitar tahun 1997 sebelum puncak reformasi menggulung rezim orde baru Soeharto. 

Zaman itu, penculikan aktivis politik yang menentang kekuasaan Soeharto lagi marak. Banyak aktivis tiarap dan bersembunyi. Tapi suara Ratna Sarumpat masih bergaung nyaring. Dia memang sosok yang tak mengenal takut. Nyali aktivis HAM ini tak berkerut di tengah situasi yang memang cukup mencekam di masa itu. 

Namun barangkali kita memang harus sadar, waktu adalah hakim tertinggi dalam menilai perubahan perilaku, sifat dan kecenderungan watak seseorang. Dan Ratna juga tak luput dari semua itu dan sepertinya kasus Ratna ini meneguhkan kembali sisi paling tersembunyi dalam kemanusiaan kita. 

Kita tak akan bisa paham mengapa Ratna melakukan kebohongan atau setidaknya mau diajak membangun kebohongan yang memang sangat gampang dibongkar oleh polisi kecuali kita biasa membaca karya-karya besar sastra. Dalam karya sastra kita akan paham sisi paling tersebunyi dari sifat manusia tersebut dan bisa meletakkan Ratna Sarumpaet bukan dalam spektrum politik tapi dalam pusaran sisi paling tersembunyi dari kemanusiaan kita. Mari kita rajin-rajin membaca sastra.***

Diberdayakan oleh Blogger.