Puisi

22.11.18

Orde Baru


BAGAIMANA sebuah sejarah meletakkan kita dalam dimensi masa lalu, masa kini dan masa depan? Sejarawan Onghokham pernah menulis sejarah adalah cermin kita di masa lalu. Dan dengan cermin itulah kita bisa tahu bagaimana jejak eksistensi kemanusiaan kita bergerak. 

Tak ada yang menampik, sejarah memang tidak hadir dalam ruang ‘steril’ yang bersih dari kecenderungan bias ideologi. Bagaimanapun, sejarah adalah kristal pengetahuan dan pengalaman yang lahir dari berbagai pergulatan persepsi. Sejarah adalah ‘potret’ yang memang gaduh, memuat ragam kontroversi dan ‘nyaman’ dalam multi-interpretasi. 

Namun pada akhirnya, sejarah bisa membikin kita sedikit tahu bagaimana wajah masa lalu mewarnai jejak hidup kita sebagai sebuah bangsa. Seperti di sekitar tahun 1998 lalu, ketika negeri kita, Indonesia menjejak sebuah gejolak. Reformasi menggelinding dan sebentuk kekuasaan yang dibangun dengan gaya menafikkan kemanusiaan kita runtuh. 

Selama 32 tahun kekuasaan otoriter Orde Baru, jejak sejarah bangsa kita memang terlihat buram. Kekuasaan adalah 'kawat berduri' yang membelit segala dimensi keseharian kita. Sebuah masa di mana 'ketakukan' menjadi santapan pikiran yang dipaksakan oleh pemerintah dengan dalih stabilitas pembangunan. Inilah zaman di mana indoktrinasi dengan model penyeragaman pikiran terus menggempur ruang pengucapan batin kita.  Kebebasan berpendapat, berkumpul dan berdiskusi menjadi ‘haram’ dalam ‘fatwa’ pemerintahan Orde Baru. Sikap kritis dari publik diamputasi dengan ancaman bui atau kematian perdata.

Pada era ini, komunikasi politik yang terbangun sangat satu arah. Kehidupan masyarakat menjadi demikian ‘kalem’ dalam rutinitas tanpa gejolak. Pers yang menjadi salah satu pilar demokrasi digiring dalam lintasan penyeragaman yang nyaris memualkan ‘perut’. SIUPP menjadi senjata pamungkas pemerintah Orba untuk membungkam dan membredel pers yang mencoba keluar dari lintasan keinginan pemerintah. Buku-buku yang dinilai berpotensi menyimpang alur indoktrinasi disita.

Cerita keseharian di era ini memang banyak menyimpan kisah yang memiriskan sekaligus memilukan. Proses pembonsaian politik rakyat dilakukan dengan sangat sistematis. Politik menjadi ruang tertutup yang hanya bisa diakses oleh segelintir elite politik penguasa dan rakyat hanya disuapi oleh informasi ’top down’ yang berisi seremonial pembangunan tanpa mampu mengeluarkan pendapat.

Di era Orde Baru, sejarah dibuat sebangun dengan keinginan pemerintah. Menjadi ‘corong’ yang efektif memanipulasi peristiwa masa lalu di negeri ini. Dan rakyat ‘menelan’-nya tanpa mampu melakukan protes. Hasilnya memang luar biasa, ketentraman dan stabilisasi ‘semu’ demikian mapan terbangun di masa itu. Inilah era di mana ‘kemunafikan’ diajarkan secara tidak langsung dan bertumbuh subur. Inilah sebuah sejarah kelam yang pernah kita alami. (*)