Puisi

7.11.18

Sontoloyonya "Politik Sontoloyo vs Tampang Boyolali"


BEBERAPA waktu lalu, Indonesia Lawyers Club (ILC) di salah satu televisi swasta nasional; Indosiar, mengangkat isu politik hangat dalam atmosfir politik masa kampanye pilpres 2019 dengan tajuk ‘Politik Sontoloyo vs Tampang Boyolali’. 

Dipandu jurnalis senior Karni Ilyas, talk show rutin ILC ini memang diperkirakan bakal ‘panas’ mengingat isu ini sangat mengemuka di media, baik media mainstream maupun media sosial. 

Seperti diketahui, munculnya istilah ‘politisi sontoloyo’ pertamakali dilontarkan oleh Presiden Jokowi yang juga menjadi petahana dalam kontestasi pilpres mendatang. 

Terus terang saya tak tahu pasti konteks dari pernyataan ‘politik sontoloyo’ ini hingga mampu mengguncang jagat politik jelang pilpres. Saya hanya menaksir, munculnya istilah trending topik ini terkait dengan kegundahan Jokowi menyaksikan perilaku politik dari para politisi oposisi yang semakin hari terlihat semakin tak jelas juntrungannya, baik dalam sisi etika, moral serta model perilaku dan wacana isu yang dihembuskan

Sedang munculnya istilah ‘tampang Boyolali’ bila diruntut kronologisnya adalah ketika kandidat Capres Prabowo melakukan kampanye di Boyolali. Konteks yang menjadi isu Prabowo dalam pidatonya itu sebenarnya terkait kesenjangan sosial dan ekonomi Indonesia yang dinilainya memiliki ‘gap’ sangat lebar. 

Namun pilihan diksi dan alur komunikasi yang dimunculkannya lebih menukik pada kecenderungan ‘melecehkan’ warga Boyolali yang dinilainya ‘kampungan’ dan tak memiliki akses sosial ekonomi untuk menikmati fasilitas mewah karena kemiskinan mereka. “Kalian pasti tak pernah masuk ke hotel-hotel mewah di Jakarta itu, karena tampang kalian tampang Boyolali”, begitu kurang lebih kalimat yang terlontar dari Prabowo. 

Kasus dan isu ini menjadi heboh karena di tahun politik seperti saat ini, apa pun bisa menjadi bahan ‘gorengan’ politik untuk menjatuhkan citra lawan. Media mengupasnya dan medsos heboh dalam 1001 pendapat, ejekan bahkan pelecehan. Menariknya lagi, acara talk show top dan bisa dikatakan sudah menjadi rujukan politik rakyat semacam ILC juga ikut cawe'-cawe' menggaraminya. Maka lengkap dan paripurnalah kehebohan itu.

Muncul pertanyaan yang menggelitik, setelah heboh ini apa lagi isu yang muncul? Karena bagaimana pun dalam konteks politik Indonesia, isu-isu artifisial (dangkal) semacam ini masih menjadi ‘santapan’ gurih serta dijadikan perdebatan yang ironisnya di’ilmiah-ilmiah’kan sedemikian rupa oleh para politisi dan pengamat. 

Tapi apa boleh buat, kadar kecerdasan emosional politik kita barangkali memang baru berada pada level seperti itu. Sama sekali tidak mendidk kecerdasan rakyat malah mendorongnya masuk dalam wilayah pembodohan politik. Rakyat bukannya diajar untuk meletakkan rasionalitasnya dalam melihat suasana politik mutakhir Indonesia tapi dimanipulasi untuk membenci, menghina dan bahkan menghujat.

Sejatinya, para politisi dan pengamat yang notabene menyandang identitas seorang intelektual ini meletakkan basis wacana politiknya dalam bingkai ‘pertarungan’ program dan mengindentifikasi persoalan bangsa beserta memberi solusi yang bisa dilakukan.

Namun yang terjadi adalah begitu ‘kompak’ nya politisi, pengamat intelektual dan media mengaduk emosional rakyat dengan ‘gorengan’ bumbu kebencian dalam adonan politiknya. Dan dalam konteks ini memang layaklah kita mengatakan semua pertunjukan  semacam ini adalah ‘sontoloyo’. ***