Puisi

22.12.18

Intelektual


EDWARD W SAID mungkin adalah segelintir intelektual yang masih meletakkan fungsinya sebagai ‘corong’ kebenaran. Frans Magnis Suseno meletakkannya sejajar dengan Noam Chomsky. Intelektual yang lebih banyak berada di sisi marjinal perabadan dan terus menyerukan suara kritisnya.

Dalam bukunya yang berjudul “Peran Intelektual”, Edward W Said memang terbaca jelas dalam sikap mau pun keberpihakan pada yang lemah, yang tertindas meski dengan itu, dia harus rela terus terpinggirkan dan di musuhi oleh banyak kalangan.

Peradaban memang selalu melahirkan orang- orang dengan sikap dan karakter serupa ini. Di abad 20 kita mengenal Ghandi. Di abad ke 19, kita bertemu sosok Julian Benda atau lebih surut ke belakang ada sosok Voltaire, Sokrates dan lain- lain.

Dunia memang selalu membutuhkan sosok-sosok semacam ini. Bukan untuk dipajang di etalase peradaban sebagai sosok kontroversial, namun kehadirannya memang menjadi semacam cahaya untuk jalan kewarasan dan sikap akal sehat kita.

Intelektual model seperti ini -mau tak mau- memang selalu terlempar dari pusat-pusat kekuasaan dan gemerlap lampu selebritas kekayaan. Namun di sanalah secercah akal sehat terus dijaga dan dirawat di tengah ‘kegilaan’ tak terperikan dari fenomena modernitas kapitalistik yang mempu ‘membeli’ apa pun, tak terkecuali benih inteletualitas yang ada dalam benak seseorang.

Kapitalisme yang terus melipatgandakan diri sehingga apa pun bisa diperdagangkan dan dinilai dengan uang.

Dalam situasi semacam itu, Edward W Said, Noam Chomsky, Gandhi, Julian Benda, Voltaire menjadi antitesa kecenderungan zaman. Mereka hadir untuk menjaga akal sehat kita. **