Puisi

29.12.18

Pilpres di Indonesia


DI INDONESIA barangkali adalah satu-satunya negara di mana Pilpres atau pemilihan Presiden-nya terlihat demikian menyimpan paradoks. Di satu sisi, momentum ini sangat dinamis di permukaan namun di balik gemuruh gegap gempita itu, ajang yang sejatinya untuk memilih pemimpin terbaik negeri ini, dibaluri semangat saling meniadakan, menegasi antara kubu yang bertarung dan penuh dengan semburan caci maki, hujatan, fitnah, hoaks serta fake news.

Sejarah Pilpres kita memang belum jauh-jauh beranjak dari sana. Yang menggumpal di atmosfer politik jelang Pilpres hanyalah sebuah 'panggung' dari menggelembungnya syahwat kekuasaan semata. Sebuah pertarungan dengan misi zero sum game.

Mengutip sebuah puisi dari penyair Rachman Arge, "hanya satu kursi dan kalah berarti tiang gantungan", politik Pilpres kita dengan demikian senantiasa menyimpan bara dendam.

Apakah ini sebentuk ketidakdewasaan kita dalam menyikapi demokrasi? Atau paradigma demokrasi di negeri ini memang baru pada level semacam itu? Terus terang saya kurang tahu. Namun yang pasti, dalam udara politik model seperti ini, bisa dipastikan kemaslatan rakyat menjadi nomor ke sekian karena yang menjadi neuklus pertarungan adalah menang atau kalah. Mendapat privelege kekuasaan atau jadi paria di pojok marjinal kekuasaan.

Dengan demikian, tidak mengherankan bila segala macam cara dihalalkan. Etika politik di punggungi dan moralitas politik jadi alas kaki untuk membersihkan cara-cara kotor yang dilakukan.

Pilpres Indonesia pun menjadi arena balapan tanpa sedikitpun menyisakan hal-hal paling esensial dalam bangunan sebuah bernegara yang berkedaulatan rakyat. Yang nampak adalah lumpur politik yang dipenuhi para elite dengan segala kekerdilan ya dalam menyikapi sesuatu.

Lalu bagaimana kita berbicara rakyat di sana? Terus terang saya merasakan ada yang mengiris menyebut rakyat dalam suasana Pilpres semacam ini. (*)