Puisi

13.12.18

Wiji Thukul


SOSOKNYA tirus, nyaris tak berdaging. Rambut ikal berantakan. Sekilas tak ada yang perlu ditakuti dengan sosok kerempeng ini. Namun di era Orde Baru, pria kumal ini demikian ditakuti oleh penguasa saat itu. Bahkan untuk membungkamnya, rezim penguasa mengambil langkah ekstrim; menculik. Dan hingga saat ini keberadaannya masih tak diketahui.

Namanya Wiji Tukul, sebuah nama yang sangat lekat dengan kesan ‘kampungan’. Dalam kesehariannya, Wiji dikenal sebagai aktivis-seniman. Untuk menghidupi keluarganya -istri dan anaknya- Wiji bekerja serabutan.

Dalam segala kebersahajaan laku hidup kesehariannya, dia sebentuk benih ‘monster’ bagi penguasa yang bertabiat diktator. Bukan karena dia memiliki pengaruh poltik yang dahsyat atau punya sepasukan prajurit terlatih yang siap melancarkan pemberontakan. Wiji ditakuti karena kejujurannya dalam berucap. Lelaki kerempeng ini ‘dihilangkan’ karena kata-kata dalam puisinya membangunkan keterlenaan orang.

Dia berpuisi dengan bahasa sederhana, namun dalam kesederhanaan kata-kata itulah kita terhenyak bangun dalam buaian ‘nina bobo’ yang setiap hari dinyanyikan penguasa orde baru. Puisinya menghantam tepat dalam jantung kekuasaan; 'Hanya ada satu kata: LAWAN'

Setiap kekuasaan senantiasa memiliki kecemasannya sendiri. Dan kekuasaan yang dibangun dengan 'kawat berduri' serta 'centeng' yang siap menyalakkan senjata untuk melenyapkan lawan politiknya memang selalu 'gugup' di hadapan kata-kata.

Wiji Thukul membuktikannya. Dan karena kejujuran dalam bahasa puisinya, dia harus lenyap. Sebuah rezim yang demikian kokoh itu menjadi terlihat demikian kalap hanya karena sebuah puisi sederhana. Wiji Thukul, penyair tirus ini kemudian hilang tak berjejak. *