Puisi

26.1.19

Fenomena Ahok (Baca: Sekali Lagi)


SEJAK dibebaskan dari hukuman karena terjerat kasus ‘penodaan’ agama, Ahok kembali menjadi ‘sorotan’ publik. Media massa menempatkannya dalam headline dan tajuk rencana. Bahkan media asing (baca: luar negeri) ikut ramai-ramai memberitakan dan mengulasnya.

Sekali lagi, Ahok menjadi sebuah ‘fenomena’. Menjadi tanda, menjadi ikon yang daya sebarnya melampaui sekat-sekat teritorial, warna etnis serta melampaui dirinya sendiri.

Banyak yang menilai, fenomena Ahok lahir dari sebuah ‘lecutan’ berbagai paradoks yang memang menjadi bagian dari jejak-jejak ‘hantu’ posmoderen dalam ranah politik. Warna paradoks Ahok merupakan bagian inheren dari munculnya era baru, di mana sebuah ‘tanda’ (baca: Ahok) tidak lagi berhenti dalam dirinya sendiri, namun membelah dan merujuk pada ‘tanda-tanda’ lain. Ahok bukan lagi sekadar politisi dengan segala kontroversial yang mengiringinya, namun telah menjema menjadi ‘lambang’ dalam semiotika dengan rujukan ‘tanda’ yang tak terhingga.

Dengan demikian, meletakkan Ahok, saat ini, dalam rantai panjang ‘tanda-penanda’-nya Ferdinand de Saussure serta dunia ‘simulacra’-nya Jean Baudrilard, telah membentuk spektrum gelombang dengan daya hermeneutika yang dahsyat.

Menafsir Ahok adalah menafsir dunia dalam belitan berbagai paradoks pasca modernitas atau meminjam salah satu bait puisi ‘Padamu Jua’ karya Amir Hamzah, “bertukar tangkap dan lepas”.

Fenomena Ahok adalah membuncahnya tarik-menarik dalam gemerlap perayaan insting purba manusia dalam konfigurasi cinta dan benci, keberanian dan ketakutan, kejujuran dan dusta.

Bercerita tentang Ahok kemudian membawa kita bercelancar dalam seluruh ruang-ruang sejarah tentang ilmu tafsir dan kemudian mendekonstruksinya dalam tajuk pertanyaan besar: siapa dan mengapa Ahok?

Di sana, kita senantiasa luput dari jawaban dan kebenaran. Ahok telah menjadi ‘hantu’ semiotika itu sendiri. (*)