Puisi

10.1.19

Politik dalam Bayang-Bayang Leviathan


POLITIK adalah ruang yang memang senantiasa bising, gaduh dan penuh ‘teriakan’. Ruang-ruang yang selalu meletakkan prasangka dan sikap skeptisisme memang menjadi pilar eksistensinya. Ketika politik itu menjadi sunyi dan hening, maka itu adalah alarm bila ada yang tak beres di sana. Ada yang menyumbat zona tersebut. Entah itu berwujud pemimpin despotik, otoritarian atau bisa karena sikap apatisme politik rakyat.

Filsuf abad pencerahan Thomas Hobbes sangat menyadari hal itu. Lahir dan tumbuh dalam era penuh kekalutan politik, Thomas Hobbes terlihat sangat sinis memandang politik. ‘Leviathan’ merupakan jejak karya Hobbes yang tertulis sangat muram memandang hidup. Leviathan merupakan metafora Hobbes yang dinukil dari kisah Al Kitab tentang monster yang memiliki daya rusak yang demikian besar karena kemampuannya ‘membengkokan’. Kekuatan ‘membengkokkan’ ini diyakini merupakan metafor dari kemampuan untuk mengelabui manusia tentang kebenaran.

Dalam kisah ajaran Islam, kita juga mengenal ‘sosok’ Dajjal yang dalam Kitab Alquran dikisahkan akan muncul di masa-masa akhir zaman. Dajjal adalah ‘sosok’ yang mampu menjunkirbalikkan kepalsuan dan kebenaran. Tatanan nilai-nilai kemanusian menjadi kacau balau di sana dan manusia saling ‘memangsa’ sesamanya untuk tujuan kekuasaan, harta dan kemasyuran.

Namun bagaimanapun, politik memang selalu gaduh. Barangkali yang membedakan adalah isi dan esensi kegaduhan serta motif yang mengemuka dalam tumpah ruahnya kebisingan tersebut. Dalam takaran tertentu, politik memang memerlukan kegaduhan dalam arti di sana, kita bisa mengedintifikasi bila dinamika politik masih ada serta bila kegaduhan itu masih menyimpan untuk tujuan kebenaran dengan kemaslahatan rakyat sebagai pilarnya. Tapi jika kegaduhan itu hanya berorientasi pada kekuasaan untuk kekuasaan semata atau kekuasaan untuk hak istimewa dan pembenaran sebuah kaum/kelompok tertentu dengan menghalalkan segala cara, maka politik memang menjelma menjadi ‘Leviathan’ atau Dajjal.

Dan di sana, dalam kondisi seperti itu, Thomas Hobbes telah memperingati kita dengan segala kesinisannya.

Bagaimana dengan model politik negeri kita Indonesia ini? (*)