Puisi

9.2.19

Antara Pilpres 2014 dan Pilpres 2019: Menafsir Jokowi (Baru)


APAKAH  saat ini Jokowi masih menjadi ‘media darling’? Menjadi sentrum sorotan di mana arus media massa berputar dalam orbit kepopulerannya?

Pertanyaan ini menarik ketika Pemilihan Presiden (Pilpres) semakin mendekati ujung hidung kita. Menarik karena di pilpres 2014 lalu, bintang terang Jokowi terlihat demikian cemerlang. Di pilpres 2014, Jokowi menjadi sebuah fenomena yang mempertautkan antara impian bawah sadar kolektif rakyat tentang sosok pemimpin yang tak berjarak, merakyat dan sederhana dengan gelombang zaman revolusi digital dengan kebangkitan media sosial dengan segala karakter interaktifnya.

Pilpres 2014 menjadi momentum ‘big bang’ sosok Jokowi dengan penderasan informasi dalam kultur ‘irasional’ pemilih dan penciptaan ulang narasi tentang bagaimana sosok pemimpin sejatinya. Di aras inilah Jokowi diletakkan dan membangun fondasi popularitasnya (baca: brand) sebagai politisi yang kemudian membawa ke puncak kekuasaan di negeri ini.

Tahun 2019, jelang 5 tahun Jokowi memegang tampuk kekuasaan. Pilpres kembali memanggil dan Jokowi sebagai petahana kembali terlibat dalam pertarungan untuk memperebutkan kursi RI 1. Lalu bagaimana kita menafsirkan Jokowi dalam konteks pilpres 2019 ini? Dan bagaimana seharusnya Jokowi meletakkan dirinya pada ruang-ruang tafsir bawah sadar kolektif masyarakat di saat dirinya telah menjadi sosok pemegang kendali kekuasaan dan pemerintahan di republik ini.

Yang pasti, semua peletakan itu berbeda dengan konstalasi politik di pilpres 2014. Saat itu, Jokowi masih berada dalam level ‘baru mau akan’, sehingga cara membangun tampilannya (baca: branding) dalam jagad politik dengan ‘renyah’ bisa diletakkan dalam bingkai ‘mimpi besar’ rakyat Indonesia. Namun kini, problematikanya berbeda. Jokowi telah berkuasa (petahana) dan selama kurang lebih 5 tahun, rakyat memiliki tafsir baru dalam menginterpretasikan sosok Jokowi. Bila yang dipakai dalam setiap komunikasi politiknya masih bercorak ‘rasa’ pilpres 2014, bisa diyakini hal itu tak lagi efektif. Saat ini Jokowi telah ‘hadir’ dan bukan lagi ‘baru akan hadir’. Dengan kata lain Jokowi bukan lagi sebuah tafsir dari mimpi kolektif bawah sadar rakyat Indonesia, namun telah ‘bekerja’ dalam mewujudkan mimpi tersebut.

Dengan kata lain, sosok Jokowi di pilpres 2019 seharusnya adalah ‘Jokowi Baru’. Jokowi sebagai sosok identifikasi sebuah kekuasaan yang telah bersentuhan langsung dalam ruang-ruang baik itu relasi, interaksi, imajinasi dan persepsi masyarakat. Sebuah tafsir baru yang dibangun dengan sebuah pendekatan humanis-rasionalistik.

‘Jokowi Baru’ seharusnya dihadirkan di samping dalam ruang-ruang kekuasaan dengan kapasitas ‘penyadaran’, pemberdayaan dan pengayoman (lewat jargon kerja, kerja, kerja dan telah terbukti bekerja), juga seharusnya dihadirkan dalam perspektif baru terminologi humanistik serta menjangkau kultur 'metarasional' pemilih. Jokowi adalah manusia biasa (bukan ratu adil apalagi pesulap) yang telah bekerja dan akan terus bekerja untuk rakyat dalam ruang kelebihan dan kekurangannya sebagai manusia biasa.

Dalam perspektif  itulah, Jokowi bisa memperoleh tafsir baru tentang sosok pemimpin yang tak kenal lelah bekerja dan memiliki niat lurus demi kesejahteraan rakyat. Sosok pemimpin yang tulus di tengah gelombang hiruk-pikuk politik yang hanya mengejar kepentingan pribadi atau pun kelompok. Dan dengan begitu, dia layak diberi kesempatan sekali lagi. *