Puisi

23.2.19

Neno Warisman, Doa dan Tuhan


PADA sebuah acara, mantan penyanyi Neno Warisman membacakan sebuah doa. Judulnya kira-kira, “Munajat 212”.

Doa ini kemudian menjadi heboh ketika ada sepenggal bait yang bunyinya membikin kita terhenyak, “ Ya Allah bila Engkau tak memenangkan kami kuatir ya Allah, Tidak ada lagi yang akan menyembah-Mu”.

Penggalang bait doa ini banyak diyakini dinukil dari doa Rasulullah SAW sewaktu menghadapi perang ‘hidup-mati’ umat Islam. Sejarawan mengenalnya sebagai perang Badar.

Heboh doa Neno ini meledak tak terbendung. Banyak yang mempertanyakan maksud Neno ketika menyebut “jika Allah tak memenangkan kami”. Kami ini siapa? Dan dalam konteks apa kemenangan yang dimaksud? apakah dalam konteks Pilpres yang bakal dilakukan di April 2019 mendatang?

Terus terang, saya bukanlah ahli agama dan sama sekali bukan pula orang yang punya kapasitas ikut nyinyir dalam kehebohan ini.

Di sini, saya hanya ini ‘bermain-main’ dalam spektrum semiotika simbolik serta mendedahnya dalam adonan hermeneutika. Dalam perpektif Paul Recouer (pemikir post strukturalis Prancis), Bahasa (termasuk doa yang banyak memakai medium bahasa) adalah memiliki otonomi sendiri. Doa adalah rangkaian penghubunh antara isyarat dan simbol-simbol yang dirujuk namun tidak berhenti karena akan merujuk isyarat dan simbol lain.

Dengan kata lain, hermeneutika doa adalah daerah teks otonom yang bahkan tidak mampu dikendalikan oleh sang pembawa doa itu sendiri.

Itu baru sekadar doa, apatah lagi sumber atau sosok atau sesuatu yang dituju oleh doa itu sendiri (baca: Tuhan). Doa, dengan demikian tidak jauh dari sebuah peneguh, permohonan yang sebenarnya hanya ditujukan untuk diri sendiri. Semisal kita berdoa semoga diberi keselamatan dunia dan akhirat. Doa itu sejatinya menjadi pemicu kita untuk berbuat baik demi keselamatan. Jadi doa adalah untuk kita sendiri dengan meletakkan Sang Pencipta sebagai tumpuan kekuatan kita bergerak.

Lalu bagaimana dengan doa Neno Warisman yang sedikit banyak bernada ‘mengultimatum’ Tuhan? Wah, saya hanya senyam-senyum. Tak mampu menilai. Pertama saya bukan pemuka tafsir agama, bukan ahli akhirat apalagi Tuhan. (*)