Puisi

16.3.19

Jadilah Hujan di Halaman Rumahmu


Jadilah hujan di halaman rumahmu. Ketika angin berhenti dan sebentuk rindu jatuh pada foto-foto usang tanpa bingkai tepat di jantungmu. Di sini waktu tak juga membikin segalanya lapuk. Bersama ingatan-ingatan yang membangun sarang. Tempat burung-burung senja menukar dengan rasa pilu.

Tak ada lagi yang mengetuk pintu. Kesunyian adalah tasbih hujan yang engkau putus satu-persatu. Sebentuk dingin pecah dari kepingan masa lalu tempat anak-anak bermain di tikungan rindu.

Jadilah hujan di halaman rumahmu. “Duka itu abadi”, demikian pernah engkau dengar sebuah puisi mencatatkan dirinya. Lalu perlahan langit meninggalkan basah. Meninggalkan jejaknya di matamu. Di matamu


Makassar, 2019