Puisi

9.3.19

Jiwa-Jiwa yang Rumit


TERKADANG seorang lahir mendahului zamannya. Dalam kondisi serupa itu, dunia tempat dia hidup menjadi sebuah ‘medan’ pergulatan batin yang demikian berat. Memang, tak ada yang lebih memilukan ketika seseorang dan dunia beserta masyarakat yang di sebuah zaman tidak saling menemukan keselarasan dalam batin, persepsi maupun harapan. 

Ada banyak contoh terkait jiwa-jiwa ‘merana’ sesorang yang tak mengerti dan sekaligus dimengerti oleh zaman di mana dia hidup. Khalil Gibran, Sokrates, Nietzsche dan Voltaire adalah sedikit contoh dari sosok yang senantiasa ‘berkelahi’ dengan zaman di mana mereka hidup. 

Talenta yang meledak-ledak adalah salah satu penyebab mengapa sosok seperti ini harus melakukan pergulatan batin yang sangat melelahkan, bahkan dalam kadar tertentu nyaris meluluh-lantakkan seluruh peri kehidupannya. Zaman menganggap mereka memang sosok yang aneh dan kita dengan sedikit pemahaman tentang keluasan jiwa manusia hanya sanggup menilai bila mereka adalah sosok dengan kepribadian yang rumit.


Khalil Gibran, Sokrates, Nietzsche ataupun Voltaire adalah sosok yang menapaki hidup ‘jauh dari jenis kebahagiaan’ seperti yang diasumsikan serta diindoktrinasikan oleh ideologi modern seperti saat ini. Mereka adalah jiwa berasal ‘daerah ketinggian’ -meminjam kata filsuf Nietzsche- dengan kemandirian pribadi kadar kekerasaannya bagai beton. Tak ada rayuan apa pun yang bisa menggeser prinsip-prinsip yang telah dianutnya dan itulah yang membuat mereka senantiasa tak nyaman berada dalam dunia yang penuh kemunafikan. ***