eMGePuisi

6.3.19

Membaca Pilpres 2019: Pertarungan dalam Bayang-bayang "Kuda Troya"


PEMILIHAN PRESIDEN (Pipres) 2019 tersisa kurang lebih 2 bulan lagi. Dari berbagai survei yang dirilis beberapa bulan terakhir ini, menggambarkan pasangan calon petahana Jokowi yang kali ini menggandeng Ma'ruf Amin sebagai pendampingnya masih unggul dengan selisih sekitar kurang lebih 20% dibanding pasangan Prabowo-Sandiaga Uno. 

Namun peta kekuatan para kandidat sebenarnya masih sangat cair dan gampang bergeser, mengingat masih besarnya pemilih yang mudah beralih suara (swing voters) serta pemilih yang belum menentukan pilihan. 

Namun di sini saya tak membahas siapa yang bakal memenangkan pertarungan Pilpres di 2019. Namun lebih menukik pada konstalasi kekuatan politik yang juga mau-tak mau terkait dengan jatah kekuasaan dan pengasaan ekonomi dari para ‘pemain’ dalam percaturan perebutan kekuasaan.

Satu hal yang menonjol dari pembacaan jelang pilpres 2019 kali ini adalah kembali menguatnya kekuatan politik lama yang pernah berkuasa selama 32 tahun yakni orde baru.

Kembali menguatnya isu kekuatan orde baru memang senantiasa muncul saat menjelang Pilpres, namun bedanya pada Pilpres-pilres lalu, isu ini tidaklah terlalu mengemuka. Kali ini isu tersebut banyak merebut ruang diberbagai media massa, bahkan dalam kadar tertentu, isu ini beberapa kali diangkat oleh salah satu kandidat peserta Pilpres. 

Membaca hal itu, ada beberapa analisa yang bisa kita elaborasi fenomena tersebut. Pertama, isu ini terasa kuat karena keluarga mantan penguasa orde baru (baca: keluarga Cendana) menilai saat ini jadi momentum mereka masuk kembali ke ruang-ruang pertarungan politik. Salah satunya adalah dengan mendirikan partai politik. Barangkali mereka menganggap, rakyat telah bisa berdamai dengan masa lalu dan dalam hitungan demografi, mayoritas pemilih saat ini tidak pernah merasakan langsung ‘cengkeraman’ kekuasaan orde baru.

Kedua, Isu ini menjadi hangat karena elemen kekuatan orde baru menganggap konsolidasi kekuatan mereka telah mapan kembali. Kesalahan fatal para pejuang reformasi di tahun 1998 lalu adalah hanya berhenti pada pergantian pucuk dari sebuah rezim tanpa mereformasi total seluruh tatanam sistem yang menjadikan Indonesia nyaris bangkrut. Dengan hanya menurunkan Soeharto, segala yang ‘berbau’ orba masih melekat dalam kerja sistem pemerintahan dan kenegaraan. Contoh yang paling mencolok adalah masih mapannya kekuatan ‘mafia’ diberbagai lini serta perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) tidak mereda bahkan semakin berkecambah.

Inilah yang menjadikan Indonesia belum juga mampu ‘keluar’ dari sengkarut permasalahan lama dan hanya bisa bergerak parsial sebagai negara yang bercorak reaktif dan bukan proaktif. Segala perencanaan pembangunan yang di atas kertas demikian ‘wah’ dan hebat jadi melempem ketika masuk ke tataran pelaksanaan. Sumberdaya Manusia (SDM) yang belum bertransformasi dan masih ‘mengidap penyalkit lama’ adalah salah satu penyebab utamanya.

Ketiga, isu orde baru di hadapan masyarakat yang tidak merasakan langsung suasana saat ini memang gampang ‘digiring’ untuk ‘berhalusinasi’ bila kondisi saat ini memungkinkan untuk itu. Untuk menciptakan suasana kebatinan serupa itu, maka propaganda “Lebih Enak Hidup di Zaman Soeharto” dimassifkan serta dibarengi dengan membangun wacana politik yang terus menerus bising dan tak nyaman. Inilah yang kita rasakan saat ini. Sebuan hoaks, fitnah, kebencian berseliweran di mana-mana. Suasana chaos terus didengungkan, sehingga mampu tertanam baik di benak rakyat.

Bila suasana ini terus terbangun dan tak mampu diredam, bukan tidak mungkin bayang-bayang ‘kuda troya’ dalam politik kekuasaan Indonesia akan terjadi. Kisah ‘kuda troya’ adalah cerita bagaimana tentara Yunani mampu menaklukkan kota Troya yang memiliki benteng pertahanan yang nyaris tak tertembus. Dengan memanfaat kan tradisi para tentara Yunani berpura-pura kalah dan putus asa. Mereka mengirim hadiah patung kuda besar sebagai tanda kekalahan. Namun di balik patung kuda itu bersembuyi para tentara Yunani dan ketika malam tiba, mereka keluar dan menghancurkan kota Troya beserta tentaranya dari dalam benteng.


Kita tak tahu pasti bahwa di dalam tubuh pemerintahan Jokowi-JK ada berapa banyak ‘kuda troya’ yang bercokol. Pelan-pelan mengerogoti dan akhirnya di saat subuah momen tepat mereka tampil dalam wujud aslinya dan mengembalikan sebuah rezim yang dulu demikian mencekam. Sebua rezim new orde baru.**