Puisi

13.3.19

Politik dan Puisi Fadli Zon serta Neno Warisman


ADA yang menarik setiap tahapan pemilihan presiden (Pilpres) memasuki fase-fase puncak. Mendadak puisi menjadi sebuah amunisi untuk kampanye sekaligus punya obsesi menjatuhkan nama baik lawan politik. 

Sebutlah puisi politikus Fadli Zon dan puisi (doa) Neno Warisman yang menjadi viral jelang Pilpres 2019. Motif yang ada dibalik puisi (kalau pun memang pantas disebut puisi)     sangat mencolok; menggiring opini publik untuk suka atau tidak suka pada sesorang. Puisi jenis ini dalam kadar tertentu lebih lekat disebut puisi famplet atau puisi propaganda. Bisa dijamin umur puisi ini sangat ringkas dan akan mati terlupakan seiring dengan melapuknya isu yang diangkat.

Memakai idiom-idiom serta style puisi dalam ruang-ruang politik memang bukan barang baru. Namun yang banyak membedakan adalah kadar pengucapan puitik serta ledakan puitik (bukan politik) yang mengiringinya. 

Kita pasti mengenal penyair Chairil Anwar, Rendra atau yang paling lewat dibenak kita tentang sebuah perlawanan adalah penyair Wiji Thukul. 

Penyair-penyair ini menjadi sebuah icon perlawanan sosial politik. Mereka adalah simbol perwujudan kata-kata yang meraksasa dan sanggup membuat nyali sebuah rezim menciut. Merekalah yang menjadikan kata-kata terasa lebih menakutkan dari 'sepasukan tentara dengan persenjataan lengkap'. Demikian menohok dan mengiris bagai silet namun juga demikian puitis dan menyentuh langit-langit kemanusian dan nurani kita. Inilah yang membikin puisi mereka terus berbinar menyala dan hidup abadi. 

Lalu apa yang menjadikan puisi bercorak kritik sosial politik dari Chairil, Rendra maupun Wiji Thukul dengan puisi (kalau pun dinamakan puisi) milik Fadli Zon atau Neno Warisman? Bisa dipastikan yang membedakannya terletak dalam ‘proses kreatif’ yang membidani lahirnya puisi tersebut. 

Pada puisi Fadli Zon atau Neno, bisa dipastikan nir-proses kreatif di sana. Puisi itu bukan hasil dari sebuah keutuhan dari 'pengalaman puitik' besar yang senantiasa mengiringi lahirnya sebuah puisi besar. Puisi Fadli dan Neno adalah sebuah parade kata-kata ‘kebencian’ dan syahwat berkuasa yang diinjeksi dengan permainan kata-kata. Tak lebih tak kurang. 

Viralnya puisi mereka bukan karena selaras dan menjadi ‘penyambung’ common sense hati nurani kemanusiaan kita, namun karena memanfaatkan isu politik yang lagi tren serta adukan emosi ‘ketidak-sukaan’ sekelompok orang karena perbedaan pilihan politik dalam pilpres. Hanya itu. Selebihnya, puisi (kalau pun bisa disebut puisi) dari Fadli dan Neno menjadi ledakan petasan dari perayaan rasa benci yang umurnya bisa dipastikan singkat dan tak meninggalkan jejak apa-apa. 

Puisi Fadli dan Neno adalah buih-buih gelombang yang dengan gampang lenyap tak berbekas seiring datangnya gelombang isu politik yang baru. Sebuah ciri khas dari puisi propaganda dengan kadar artifisial yang buruk. **