Puisi

22.4.19

Antropologi Sebuah Dapur


Di dapurmu kuletakkan sebait puisi yang menjadi nasi goreng, sambel terasi dan letupan minyak tumis dan semangkuk kenangan tentang sebuah taman

Rupanya engkau tak di sana, hanya onggokan panci, baskom dan kompor yang telah menjadi bangkai. Lalu perlahan ku kubur mereka dengan rasa sepi yang mengigil.

Mungkin ini semacam pengembaraan yang percuma di dapurmu. Cinta kita telah dihanyutkan banjir tempat anak-anak berendam dalam masa depan. Dan kita hanya sebuah masa lalu


Makassar, 2019