eMGePuisi

14.4.19

Pilpres 2019, Jembatan Titian Diantara Populisme dan Visioner


PEMILIHAN PRESIDEN (Pilpres) 2019 tersisa menghitung jam. Hiruk pikuk kampanye dengan segala pernak-pernik yang mengiringinya mulai sayup seiring masuknya masa tenang. Dalam tahapan Pilpres, masa tenang mungkin dimaksudkan sebagai jeda waktu untuk melakukan refleksi (perenungan) mendalam untuk meneguhkan dan memantapkan pilihan. Barangkali pula masa tenang merupakan sebuah prosesi -meminjam istilah dalam seremoni pernikahan- adalah masa seseorang masuk dalam ‘pingitan’, semacam ruang untuk mempersiapkan dan mematangkan diri demi sebuah masa depan. 

Tapi di sini saya tak bermaksud mengulas filosofi ‘masa tenang’ dalam Pilpres. Namun mencoba meletakkan basis ‘permainan’ semiotika (tanda, simbol) yang tertangkap sepanjang kampanye Pilpres serta bagaimana para kandidat (Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi) beserta tim pemenangannya secara sadar atau tidak menampilkan ‘karakter, paradigma serta strategi dalam merebut simpati rakyat. 

Dalam paradigma besar ideologis dan corak berfikir -dan mungkin memang menjadi bagian dari strategi membangun brand politik-  kedua pasang kandidat Pilpres 2019 ini, kita menemukan dua belahan paradigma besar yang sangat bertolakbelakang dan menjadi fondasi dalam segala gerture maupun ucapan mereka. 

Pada Prabowo-Sandi kita menemukan ‘alam paradigma’ dengan tekanan kuat pada aliran populisme. Paradigma aliran politik ini senantiasa ditandai dengan ciri khas skeptimisme yang deras. Ideologi ini senantiasa mengambil jarak besar antara rakyat dan elit. Kepentingan rakyat senantiasa dilawankan dengan kepentingan elit. 

Dengan demikian, dalam setiap forum serta perjumpaannya dengan massa, Prabowo dan Sandi senantiasa menyemburkan kritikan bahwa rakyat diperlakukan tidak adil. Bahwa para elit politik selama ini telah ‘mengangkangi’ hak-hak rakyat. Bahwa rakyat harus bangkit melawan. Citra-citra populisme memang begitu kuat di sana. 

Dalam takaran tertentu, ideologi populisme selalu mencari dan membangun ruang-ruang konflik, baik itu dalam agama, ras dan suku. Politik identitas menjadi simbol paling mencorong dalam jejak ideologi populis ini. 

Fenomena gerakan ideologi polpulisme semacam ini memang sedang mengalami ‘naik daun’ dalam membangun kekuasaan baru di dunia saat ini. Sejak runtuhnya ideologi lama (komunisme, kapitalisme, sosialisme, liberalisme), bangkitnya politik identitas dijadikan semacam ‘makanan empuk’ bagi politisi dalam menaiki tangga kekuasaan. Ini juga sangat ditopang oleh revolusi informasi yang menjadikan politik semakin terpersonalisasi. 

Gerakan ideologi populisme bisa menjadi cara yang paling gampang dalam merebut kekuasaan ketika massa rakyat berada dalam ruang-ruang nir-kecerdasan politik. Membangun paradigma konflik dengan memakai isu-isu identitas, suku, agama dan ras sangat renyah ditelan oleh rakyat yang sedang mengalami sebuah zaman di mana basis penopang paradigma common sense-nya yang lama sedang ambruk dan belum menemukan cara pandang baru dalam melihat dinamika dunia. Bahkan di Amerika Serikat, yang merupakan rujukan demokrasi dunia, gerakan populisme ini bisa membawa kemenangan bagi Trump dalam Pilpres di sana.

Sedang pada Jokowi dan Ma’ruf Amin, populisme juga menjadi bagian yang cukup menonjol, namun peletakan personal branding mereka sebagai petahana (incumbent) lebih terlihat kuat. Di mana pun sosok petahana memang senantiasa memosisikan diri dalam pengucapan ruang-ruang politik hasil kerja yang telah dicapai. Titik fokus pada keberhasilan serta dibarengi dengan menumbuhkan harapan dan optimisme adalah hal yang terbaca di sana. 

Pada tataran ini, Jokowi dan Ma’ruf Amin meletakkan diri dalam ruang-ruang visioner seorang pemimpin. Melihat jauh ke depan dengan segala tantangan dan potensi hambatan yang bakal dihadapi. Dan untuk itu semua sikap optimis sangat diperlukan dan haparan rakyat menjadi daya rekat yang paling kuat. 


Di sinilah letak perbedaan yang paling mencolok antara Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi. Di satu sisi Prabowo-Sandi membakar semangat perlawanan dengan memakai ideologi populisme dengan amunisi politik identitas sebagai basis merebut hati rakyat, sedangkan Jokowi-Ma’ruf mengedepankan sikap optimisme dengan landasan visi jauh ke depan tentang sebuah bangsa yang besar. Pesimisme dan optimisme berhadap-hadapan di sana. Dan rakyat kemudian disodori pilihan untuk menentukan masa depannya. ***