eMGePuisi

18.5.19

Begini Saya Membayangkan Sebuah Kota


SAYA selalu membayangkan sebuah kota dengan ruang publik yang ramah bagi warganya serta menjadikannya sebagai wadah interaksi yang penuh nilai-nilai humanitas. 

Ruang publik itu bisa berupa sebuah taman kota atau lebih luar biasa lagi berupa hutan kota. Saya membayangkan taman atau hutan kota ini demikian rimbun oleh pepohonan yang dibelah oleh jalan setapak meliuk-liuk yang di sisinya berjejer bangku-bangku tempat warga duduk. 

Di sana, saya membayangkan, warga bisa merasa nyaman melakukan aktifitas semisal membaca buku, bersepeda, joging atau sekadar menghabiskan waktu bersama keluarga. 

Bagi saya, sebuah kota adalah ‘rumah’ bagi warga penghuninya, Sebuah tempat kita bisa kembali mempertautkan diri dengan masa lalu serta memperteguh harapan akan masa depan. Sebuah tempat di mana akar sejarah eksistensi kita saling bertaut dengan lingkungan dan saling memberi ‘napas’ kemanusian. 

Saya teringat sebuah novel filsafat karya Albert Camus yang berjudul “Sampar”. Sebuah kisah tentang bagaimana kota perlahan-lahan redup dan kehilangan passion dari warga. Dengan memakai metafora penyakit sampar yang menyerang kota yang dia namakan Oran ini, Camus berbicara lirih tentang sebuah kota “tanpa pengucapan” lagi. Kota yang kehilangan ‘nyali’ menatap masa depan. 

Dari karya Camus ini, kita bisa menuai pelajaran penting bagaimana kota dibangun tanpa ‘membunuh’ jiwanya. (*)