eMGePuisi

12.5.19

Mengenal UQ Sukriansyah Lebih Dekat


SUATU ketika di sekitar tahun 2007, pintu rumah saya diketuk seseorang, ketika saya buka, seorang tetangga berdiri di hadapan saya sambil menggenggam sebuah telepon seluler (ponsel). Ia kemudian menyodorkan ponsel tersebut dan mengatakan seseorang ingin bicara.

Saya menerima ponsel itu, dari seberang terdengar suara. Ini suara Sukriansyah Latief atau sangat karib kita sapa UQ. Dia saudara, sahabat, mentor jurnalistik sekaligus bos saya di koran Fajar dulu. 

Memang sudah beberapa waktu di tahun tersebut saya mendadak hilang dari orbit pergaulan. Pertama, saya sedang sakit, kedua saya sedang dilanda krisis mental (mental breakdown) yang cukup parah di saat itu.

“Kamu kemana selama ini? Besok ke kantor”, ujarnya di telepon. 

Kesan pertama saat itu, UQ benar-benar ingin menemui saya. Pasalnya, karena saya tak punya ponsel, dia menelpon tetangga saya yang juga sepupunya, khusus untuk berbicara kepada saya.

Esoknya, kita bertemu di ruang kerjanya di Harian Fajar, tanpa bertanya ba dan bi atau bu, dia menyodori saya beberapa proyek penulisan buku. 

Untuk seorang 'pengangguran' seperti saya, tawaran seperti itu adalah ‘ledakan’ berkah yang dahsyat dari sebuah harapan. Suatu momen percampuran antara kegembiraan dan keharuan. 

Kisah ini adalah sepenggal cerita tentang sosok UQ. Sebuah pribadi yang khas dan mengagumkan, terutama untuk diri saya. Sosok yang senantiasa meletakkan diri sebagai ‘kran’ tempat mengalirnya pengembangan potensi sesorang. Kehadirannya juga senantiasa mencerahkan serta memancing lahirnyanya inspirasi. 

Bagi saya, satu yang sangat menonjol dan menjadi khas pribadi seorang UQ adalah kemampuannya membangun sinergi diantara berbagai kepentingan yang kerap berbenturan  serta kepiawaiannya merajuk kebersamaan dalam lintas pergaulan yang demikian luas. 


Banyak orang yang pernah merasakan pertolongan dan sentuhan kerja ‘tangan dingin’ seorang UQ. Dia memberi kita “kail” untuk terus berkembang, bukan memberi “ikan” yang terkesan sesaat. 

Talentanya dalam mengidentifikasi potensi seseorang adalah satu sifat yang menonjol dari sosok UQ. Begitu mengenal seseorang dia sudah mampu mengarahkan ke posisi kerja mana orang tersebut mampu berkinerja baik. Inilah talenta yang sangat jarang dimiliki seorang yang menduduki jabatan-jabatan strategis seperti UQ. (*)