eMGePuisi

1.6.19

Mengenali Karakter Politik Warga Makassar dari Warung Kopi


WARUNG KOPI atau akrab disebut Warkop di Kota Makassar bukan hanya tempat orang datang untuk meminum kopi. Karakter khas yang dimiliki Warkop di Makassar memang beda dengan tempat jualan kopi atau kafe di kota-kota lain. 

Di Warkop Makassar, atmosfir yang dihadirkannya sangat unik. Walau sama dengan tempat minum kopi di daerah lain, Wakkop di Makassar selalu meletakkan diri sebagai tempat pertemuan berbagai ‘arus’ pergulatan, baik dalam tataran politik, ekonomi maupun budaya. 

Bahkan dalam tataran tertentu, bila Anda ingin lebih jauh mengenali karakter politik warga Makassar, datanglah ke Warkop. Setidaknya di sana, kita akan bisa memahami kecenderungan politik warga serta pendekatan realitas keseharian warga dalam menginterpretasi politik mutakhir. 

Satu yang paling menonjol dari Warkop ala Makassar adalah sikap skeptis yang dianut para pengunjunnya. Tak ada rigiditas dogmatis di sana. Segalanya cair, ringan namun sarat dengan sikap kritis yang kadang bisa membikin telinga kita merah mendengarnya. 

Saya tak ingin mengambil kesimpulan dini bahwa ketika Anda sebagai politisi telah diterima dengan tangan terbuka di Warkop-warkop kota Makassar maka ini adalah petunjuk awal bila tingkat akseptabilitas dan elektabilitas Anda tergolong tinggi. 

Dalam takaran tertentu, pengunjung warkop di Makassar sangat kritis dalam menilai seorang tokoh publik. Parameter ukuran mereka sebenarnya sederhana yakni seberapa jauh Anda menjaga jarak, berbaur atau meletakkan diri dalam konstalasi pergaulan. 

Hal ini bisa dimengerti karena, di Warkop Makassar, sikap egalitarian sangat kental. Anda bisa siapa saja, atau menjabat apa saja, namun ukurannya bukan di sana, tapi bagaimana Anda bersikap dan mampu berbaur dalam ‘cetakan, pergaulan egaliter ala Warkop. 

Di warkop Makassar ini pula, konfigurasi dan warna politik demikian beragam, bahkan kadang saling bertentangan. Diskusi ala Warkop adalah diskusi yang tidak mengenal patron-client. Sikap yes bos (ABS) atau loyalitas buta. Di sini, semuanya mengalir namun kadang mengeras dalam argumentasi yang bercampur baur antara rasionalitas dan irasionalitas. Antara kecerdasan seorang intelektual dengan sikap emosional kaum fanatik. 

Namun uniknya semuanya terbuka untuk didenkonstruksi. Segalanya hadir dalam ruang-pengucapan yang bisa 100 persen berbalik arah dari anti menjadi penyokong fanatik. Unik dan penuh dinamika. 

Warkop Makassar memang unik, apakali bila itu kita kaitkan dengan kecenderungan perilaku politik warga Makassar. Itulah mengapa saya mengatakan bila ingin mendalami lebih jauh kecenderungan politik warga Makassar, sambangi Warkop dan mencoba menelisik dinamika di sana. ***