Puisi

24.7.19

Anak


BAGAIMANA kita memaknai Hari Anak Nasional yang jatuh setiap 23 Juli? Terus terang saya tak ingin latah ikut-ikutan ‘menggarami laut’ dengan mulut berbusa membicarakannya. Biarlah para ahli atau pejabat publik maupun politisi yang turun menghangatkan percakapan tentang anak pada konteks Hari Anak yang kadang hanya diaduk sekadar dalam adonan serimonial belaka. 

Namun sebagai seorang ayah dengan 1 anak, saya kerap terkaget-kaget dengan laju kilat perkembangan emosional dan jalan pikir anak saya. 

Suatu ketika, sambil meminta bantuan dipakaikan sarung untuk pergi salat di Masjid dekat rumah, anak saya bertanya; Ayah.. mengapa Tuhan bikin banyak agama? Bisakah kita punya lebih satu agama, supaya Tuhan senang?

Saya kaget. Benar-benar kaget. Saya merasakan aliran deras darah mengalir ke muka saya. Ternyata setiap anak memang memiliki zaman mereka sendiri dan kita sebagai orang tua kerap tidak menyadari hal itu. 

Pada umumnya, kebanyakan dari kita meletakkan anak dalam zaman di mana kita hidup dan memaksa mereka masuk sesuai cara kita berpikir. 

Di zaman saya kanak-kanak, orang tua kita banyak meletakkan ‘rambu-rambu’ larangan dalam membangun paradigma berpikir kita. Ada zona di mana kita sebagai anak hanya bisa diasupi tanpa kemungkinan melakukan protes. 

Zona ‘hitam dan putih’ sangat rigid dalam mempertanyakan secara kritis terkait seks, Tuhan dan lain-lain. 

Saya kemudian teringat sebuah pusi karya penyair besar Palestina, Khalil Gibran yang berjudul “Anakmu Bukanlah Milikmu”. 

Anakmu Bukanlah Milikmu

Anak adalah kehidupan,
Mereka sekedar lahir melaluimu tetapi bukan berasal Darimu.
Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
Curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan Pikiranmu
karena mereka Dikaruniai pikiranya sendiri

Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya,
Karena jiwanya milik masa mendatang
Yang tak bisa kau datangi
Bahkan dalam mimpi sekalipun

Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah
Menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju kedepan, dan
Tidak tengelam di masa lampau.

Kaulah busur,
Dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menantangmu dengan kekuasaan-Nya,
hingga anak panah itu meleset,
jauh serta cepat.

Meliuklah dengan sukacita
Dalam rentangan Sang Pemanah,sebab Dia
Mengasihi anak- anak panah yang meleset laksana kilat,
Sebaimana pula dikasihiNya busur yang mantap


Puisi Khalil Gibran Ini memang benar-benar banyak menampar wajah tak tahu diri kita sebagai orang tua. (*)