Puisi

13.7.19

Pelaut


Ternyata laut belum cukup menyimpanmu dengan rapi. Pada setiap gelombangnya, daun-daun pun luruh di hatimu. Peta tua itu tak lagi bisa membaca jalan-jalan pulang yang lekuk kelokannya engkau hapus di penanggalan. 

Di setiap persinggahan pelabuhan, engkau selalu menyangka inilah rumah terakhir tempat cintamu menemukan sepasang kekasih larut memandang senja di pantai. Dan segala kata-kata bersinar di temaram lampu dengan bayang-bayang pohonan menari lembut.

Ternyata laut masih saja bisa membuka kerinduan yang engkau sembunyikan di matamu. Setiap pagi dan petang, angin meletakkan surat di tiang-tiang layar. Mengabarkan rumah yang tak lagi engkau tahu di mana letaknya.


Makassar, Juli 2019