Puisi

20.7.19

Pemimpin


KETIKA baru saja keluar dari sel tahanan politik dan menjadi penguasa negara Afrika Selatan, banyak orang berpikir Nelson Mandela bakal meluncurkan aksi politik balas dendam. 

Ini bisa dimaklumi mengingat perlakuan ‘politik Apatheid' penguasa sebelumnya benar-benar meletakkan kebencian rasialis yang membara dalam ideologinya. Pemisahan ras menjadi demikian menjijikkan di sana. Ruang-ruang publik seperti tersekat dalam prasangka dan kecurigaan. 

Lalu muncullah sosok Mandela. Bila memandang  sekilas lalu, sosoknya terlihat ringkih dan rapuh. Wajahnya teduh dalam baluran sejuk. Dia tidak segarang tokoh-tokoh revolusioner lain semacam Fidel Castro di Kuba atau Hugo Chavez di Venezuela. 

Memang di sanalah bedanya Mandela dengan tokoh-tokoh revolusioner tersebut. Dia memang lebih mirip sosok Ghandi yang lembut dan sangat mencintai perdaimaian. 

Dan ketika keluar dari penjara dan menjadi orang nomor satu di Arfika Selatan, bukannya membalas perlakuan buruk yang pernah menimpanya. Dia membangun kesejukan. Dia menghadirkan semangat rekonsiliasi. Dan di sana diam-diam, kita merasakan tumbuhnya sebuah harapan. Gelegak kerinduan manusiawi yang berbinar. Dunia ternyata masih bisa menyimpan sosok seperti ini. Dunia masih bisa menaruh harapan. 

Di sana kita merasakan sebuah jiwa yang telah melampaui batas-batas ego yang menyesakkan. Mandela telah melampaui dirinya sendiri. Dia adalah seorang pemimpin dalam arti sesungguhnya. (*)