Puisi

30.7.19

Politik dan Kursi Kekuasaan


SAYA kurang tahu pasti sejak kapan politik bisa ditafsir dengan berbagai perspektif, semisal politik media, politik dagang, politik kekuasaan, politik ekonomi dan lain-lain. Kemungkinan hal itu terjadi sejak zaman moderen memperkenalkan ilmu yang lebih terspesialisasi dengan berbagai sub kategori keilmuan yang menjadi penanda peradaban filsafat positivisme dan empirisme telah menghegemoni cakrawala ilmu pengetahuan moderen. 

Yang saya paham adalah bahwa politik adalah sebuah seni dan juga ilmu terapan tentang bagaimana seseorang atau sebuah kelompok bekerja, melakukan taktik, mengatur strategi dalam mempengaruhi orang lain dengan tujuan mendapatkan kekuasaan. 

Cara ini memang sudah sangat demikian tua. Dalam tarihk sejarah, tercatat model semacam ini telah diterapkan di Yunani jauh sebelum masehi. Ini pula mengindikasikan bahwa sejak dahulu, kekuasaan merupakan zona yang demikian menggiurkan untuk didiami. 

Sejarah tumbuh kembangnya politik memang demikian dinamis. Pasang surut yang ditandai dengan jatuh bangunnya sebuah rezim kekuasaan menjadi bagian yang dengan gampang kita lacak terkait bagaimana politik zaman itu hidup dan diperlakukan. 

Bagaimana pun, politik memang tak bisa lepas dengan kekuasaan. Yang membedakannya dari zaman ke zaman adalah model, cara serta ruang-ruang pengucapan yang mengiringinya yang kadang berulang-ulang. Inilah yang menjadikan politik tidak bisa dimaknai dalam persperktif liner dalam tarikan garis lurus. 

Politik kadang bekerja dalam ruang dan bentuk spiral yang lebih dekat dengan kebudayaan serta kecenderungan zaman tempat dia tumbuh. Dalam tataran tertentu, dia mirip dengan kebudayaan dan mode fashion yang dalam hal ihwal kemunculan dan keusangannya terus menerus timbul dan tenggelam, lalu timbul lagi dan tenggelam lagi. 

Namun dalam ruang dinamika semacam itu, ada hal yang bisa dikatanya ajeg. Semacam suluh penerang yang harus ada dalam setiap gerak dinamika politik suatu zaman. Apakah itu?

Banyak ahli menyebutnya moralitas, atau etika atau integritas. Inilah yang menjadi ‘tongkat penuntun’ dari politik yang sebenarnya buta. Tanpa itu, politik akan menjelma leviathan, monster yang mampu melumatkan seluruh potensi kebaikan manusia. Niccolo’ Machiavelli dalam satu buku klasiknya yang berjudul “Prince” dengan gamblang menjelaskan bagaimana sebuah politik dijadikan alat untuk memperoleh kekuasaan dengan menghalalkan segala cara. Bagi Machiavelli, moralitas, etika dalam politik itu hanya akan melemahkan energi kekuatan dan semangat memperoleh kekuasaan. 

Bisa dimaklumi karena di zaman Machiavelli hidup, politik kekuasaan hanya diperhadapkan pada dua kemungkinan. Berkuasa atau mati. Merujuk salah satu bait puisi penyair Rahman Arge yang berbunyi: /karena kursi cuma satu/maka saya duduk di kursi/kamu di tiang gantungan (*)