Puisi

18.8.19

Kekuasaan dan Bibit Seorang Diktator


SAMBIL mengunyah kacang, bercelana pendek dan kaos oblong, KH. Abdurrahman Wahid atau karib disapa Gus Dur duduk bersama beberapa orang kepercayaannya. Terdengar sesekali gelegak tawa di ruang tamu Istana Merdeka saat itu. Rupanya Gus Dur masih bisa membuat cerita lelucon di sana. 

Suasana malam itu, di ruang tamu itu demikian cair mengalir. Padahal inilah saat-saat paling genting dalam episode pemerintahan Gus Dur pasca dirinya dimakzulkan lewat sidang paripurna MPR. 

Saya yang membayangkan suasana tersebut senyam-senyum sendiri. Bagaimana seorang yang di tubir jurang kejatuhan masih bisa membuat suasana demikian ceria. Tapi itulah Gus Dur. Seorang yang, bagi saya, telah meletakkan diri melampaui segala tetek bengek persoalan dunia. Sebuah karakter yang dinilai kontroversial dalam tataran praksis politik kekinian, namun jangkauan pemikirannya jaun melampaui zamannya. 

Sebuah buku menarik berjudul “Hari-Hari Terakhir Bersama Gus Dur”, karya Bondan Gunawan agaknya bisa bercerita panjang tentang sosok Gus Dur dalam persfektif lain. Bagaimana meletakkan Gus Dur dalam konstalasi arus besar zaman, khususnya di zaman ‘kegelapan’ era Orde Baru yang melahirkan gerakan Forum Demokraksi (Fordem) yang diprakarsai Gus Dur dan kawan-kawan.

Agaknya, Indonesia memang beruntung pernah memiliki sosok Gus Dur. Karena dalam segenap pemikiran dan sepak terjannya, kita tidak hanya menemukan kristal-kristal bernas tentang kemanusiaan, keberagaman, prularisme serta penghargaam pada hak-hak asazi manusia dalam konteks keislaman, kita juga bisa memetik hikmah besar bagaimana menyikapi kekuasaan dalam arti sesungguhnya. 

Memang benarlah kata orang bijak yang mengatakan, sesungguhnya karakter asli seseorang bisa diukur bukan saat dia tidak berkuasa, namun dilihat saat dia diberi amanah kekuasaan. 

Gus Dur, di tengah suasana genting di mana kekuasaannya nyaris di ujung tanduk, masih bisa bercengkerama, guyonan dan terlihat demikian santainya. Bagaimana pun level karakter semacam ini sangat langka ditemui. 

Pada umumnya, seseorang, ketika kekuasaanya digoyang, maka watak aslinya yang ‘beringas’ mulai menjukang sengit. Menuduh kiri-kanan, mencari kambing hitam, membuka aib lawan politiknya atau siapa pun yang dianggap mengancam kekuasaannya. Pendeknya, bagi pemimpin model begini kritik sama sebangun dengan permusuhan. Dia senantiasa sangat alergi kritik dan punya kenekadan untuk menghalalkan secara cara demi memoertahankan kekuasaannya. 

Pemimpin semacam ini sejatinya belum selesai dengan dirinya sendiri. Jiwa egois dan kemaruk kekuasaan yang mengendalikannya. Kekuasaan bagi orang semacam ini sama sebangun dengan ambisi privelege (hak-istimewa) yang mengiringi kekuasaan. Pemimpin yang tak layak disebut pemimpin tapi penguasa. Yang dalam jiwa paling tersembunyi dalam darinya ada semacam bibit sifat otoriter dan diktator. Dan otonomi daerah yang melimpahkan banyak kewenangan pada pemerintah daerah justru banyak melahirkan ‘raja-raja kecil’. Diktator kelas lokal. Kita, sebagai rakyat pantas mewaspadai bibit pemimpin semacam ini. (*)


Tulisan ini pernah dimuat di smartcitymakassar.com