Puisi

25.8.19

Kekuasaan dan Kisah Raja yang Telanjang


KEKUASAN itu memang punya dua wajah yang berseberangan. Di satu sisi, kekuasaan memiliki daya pikat yang demikian membuhul dalam pesona, namun di sisi lain kekuasaan bisa berwajah menakutkan karena kekejaman teror yang mengiringinya. 

Kekuasaan membikin banyak dari kita kehilangan akal sehat bahkan mampu menghalalkan segala cara untuk mempertahankannya. Menjadikan kita terlihat konyol tapi merasa diri bangga dengan kekonyolan itu. 

Saya punya cerita tentang hal ini. Dinukil dari cerita dongeng tentang seorang raja. Syahdan di sebuah kerajaan, hiduplah seorang yang demikian ditakuti oleh rakyat karena kebengisannya. Tak ada seorang pun yang berani mengeritik atau berbeda pendapat karena akibatnya adalah tiang pancung. 

Suatu hari, sang raja zalim ini ingin menguji ketaatan rakyatnya. Dia pun memberitahu kepada patih kerajaan untuk mengumumkan bila esok hari sang raja akan berkeliling kota dengan mengenakan pakaian baru yang termegah rancangan desainer kerajaan. Diperintahkan agar seluruh rakyat berkumpul disepanjang jalan dan menyaksikan pakaian megah tersebut. 

Maka, keesokan harinya, seluruh rakyat kerajaan berkerumum di sepanjang jalan yang bakal dilalui sang raja. Umbul-umbul kebesaran kerajaan  berdiri tegak. Jalan demikian bersih bahkan setitik debu pun tak berani mendekat. 

Tibalah saatnya sang raja hadir dengan iringan kereta kerajaan yang gemerlap bertahtakan emas dan berlian. Sang raja berdiri di atas kereta, melambaikan tangannya. Sebentar-sebentar, dia berhenti dan bertanya kepada rakyatnya.

“Wahai rakyatku, bagaimana engkau menilai pakaian baruku ini?”, tanya raja. 

“Duh, Paduka yang mulia, saya melihat pakaian yang paduka kenakan tidak ada duanya di belahan kerajaan manapun”, jawab seorang rakyat. 

Yang lain menimpali, “Pakaian yang sangat indah Paduka, bahkan para dewa di khayangan pun tak akan bisa memiliki pakaian semegah ini”.

Raja pun puas dan mengangguk-angguk. Namun di sela-sela kerumunan rakyat, seorang anak kecil tiba-tiba ‘nyeletuk’, “Raja sedang telanjang, tidak mengenakan pakaian. Kenapa disebut pakaiannya bagus?”.

Sontak keadaan hening mencekam. Banyak orang gemetar ketakutan. Bahkan angin pun mendadak tak bertiup. Muka sang raja merah padam. Giginya bergemeretak. Dengan secepat kilat para hulubalang menangkap anak tersebut. Menyeretnya dan sesekali menamparnya. Semua rakyat tertunduk. Tak berani menatap sang raja. 

Alkisah, esok harinya, patih kerajaan mengumumkan bahwa dalam pawai sang raja kemarin, seseorang mencoba melakukan tindakan makar dengan menyebarkan hoaks. Patih mengatakan pihak berwenang kini sedang melakukan penyelidikan karena diyakini anak tersebut hanya alat, pion dan aktor lapangan. 

“Kami akan membongkar kasus ini hingga dalang intelektualnya tertangkap”, tegas sang patih. 

Kekuasaan memang memiliki wajah yang mendua. Dan ketika tampuk kekuasaan itu ada ditangan seseorang dibenaknya hanya ada hasrat akan hak istimewa (privelege), maka apa pun bakal dilakukan untuk mempertahankannya. Di sana kebohongan dimanipulasi menjadi kebenaran. Kebengisannya direkayasa sedemikian rupa sehingga menampakkan dialah yang terzalimi dan menjadi korban fitnah. 

Rakyat yang ketakukan hanya diam membisu dan para pendukung dibutakan karena kefanatikan menyemburkan sumpah-serapah dan caci-maki kepada anak kecil tersebut. Walaupun semua tahu sang raja memang tak mengenakan pakaian saat itu **