Puisi

29.8.19

Kekuasaan dan Kisah Sang Ketua RW


SUASANA warga di Rukun Warga (RW) tempat saya tinggal mengalami ‘panas-dingin’ politik. Pasalnya, Ketua RW yang belum menjabat setahun ini sempat bikin geger dengan berbagai kebijakannya. Pertama dia men-non-job kan perugas kebersihan yang selama ini bertanggung-jawab soal sampah di lingkup RW kami. Alasannya sebenarnya remeh, Pak RW merasa tidak dihargai karena ketika mobilnya melintas, petugas kebesihan tidak menghentikan pekerjaannya lalu memberi hormat. Bagi Pak RW kami itu, perbuatan petugas kebersihan ini sangat melukai harga dirinya sebagai pemimpin.

Pasca pemecatan, situasi gaduh sebentar, banyak warga dan para jajaran pengurus RT mengeluh dan protes diam-diam. Namun situasi perlahan meredup. Dengan sigap Pak RW mengangkat dan melantik ponakannya yang kebetulan lagi ‘nganggur’ menggantikan posisi petugas keberaihan yang lama.

Kebijakan ke dua yang juga menimbulkan pro kontra di antara warga dan pengurus RT adalah pencopotan bendahara RW. Alasan yang dipakai karena uang kas RW dikorupsi. Apakah memang uang kas RW dikorupsi oleh bendahara, wallahualam, sebab memang selama ini pertangggungjawaban keuangan RW tidak pernah diumumkan ke warga. 

Sang bendahara menolak keras tuduhan itu, namun apa daya kekuasaan bertangsn besi yang dipertontonkan Ketua RW demikian keras. Warga dan pengurus RT hanya menggerutu dalam hati. Apalagi sang Ketua RW sudah menyewa ‘centeng-centeng’, hansip bayaran dan para pendukung bayaran yang diupah dengan sebungkus rokok. 

Tak selang beberapa lama pencopotan bendahara, Ketua RW mengangkat adik iparnya sebagai bendahara. Tak ada lagi yang berani melakukan protes, karena para centeng dan pendukung Ketua RW siap melakukan teror. 


Warga diam, pengurus RT membisu. Lewat serahun menjabat, Ketua RW sudah menempatkan seluruh sanak famili, kerabat serta pendukungnya di pos-pos strategis kepengurusan RW. Warga makin diam. Bahkan kali ini sudah dalam taraf apatis. Tak ada lagi partisipasi warga. Dan secara perlahan, situasi lingkungan RW kami seperti kampung yang kehilangan gairah. Diam. Bisu dan sang Ketua RW makin menancapkan ‘taring’ kekuasaannya. Tepat di gapura pintu masuk RW kami kini telah berdiri kokoh patung sang Ketua RW yang megah dengan jari telunjuk mengarah ke jalan raya. Di bawah tugu patung tersebut ada tulisan bertinta emas dengan huruf besar: "MARI CIPTAKAN RW YANG BERSIH KKN". 

Nama sang Ketua RW saya itu Nurdin Saja. Kami dengan takzim biasa menyapanya Pak Nur.**