Puisi

31.8.19

Papua


TERUS TERANG, saya tak tahu harus bicara apa lagi tentang Papua. Sejarah yang mengiringinya memang senantiasa muram. Sebuah wilayah di ujung paling timur Indonesia ini seperti senantiasa memendam bara dalam sekam. 

Akhir-akhir ini, papua kembali membara dalam api kerusuhan yang terus menjalar dan melebar. Saya tak tahu pasti apa pemicunya. Dalam berita di media, dikabarkan penyulut awal dari kerusuhan tersebut adalah penyerbuan asrama mahasiswa Papua di Jawa Timur oleh sekelompok orang. Simpang siur informasi serta dibarengi hoaks, agitasi dan hasutan menjadikan peristiwa tersebut melebar. 

Terus terang, saya tak tahu lagi bagaimana menjelaskan Papua dalam perspektif ke Indonesiaan kita. Selama 32 tahun pemerintahan rezim Orde Baru, Papua memang seperti ‘sarang lebah’ yang terus kita kuras madunya. Kemiskinan di tengah lumbung kekayaan yang luar biasa menjadi pemandangan biasa di sana. Dan kita seperti luput memahami bila setiap luka pastilah menimbulkan rasa sakit. 

Papua bagi saya adalah sebuah ‘laboratorium’ keindonesiaan kita yang sangat beragam dalam kebhinekaan. Saya tak tahu apakah orang Papua merasa sudah mengindonesia atau kita sudah menganggap Papua sebagai bagian dari Indonesia dalam artian yang tulus tanpa ada maksud ‘menguras’ kekayaan alamnya. Yang pasti, sejarah Papua senantiasa diselimuti sebuah kecemasan. Semacam jalan berliku menuju bingkai rasa keindonesiaan yang tulus. 

Kita semestinya melakukan introspeksi. Bukan menganalisa apalagi beropini ini dan itu. Kita harus melakukan ‘pertobatan’ nasional dalam memperlakukan Papua. Menjadikan empatik sebagai penggerak membangun kemanusiaan di sana. Kita Indonesia dalam rasa ke-Papua-an. Kita Papua dalam bingkai keindonesiaan. **